Selasa, 01 Juni 2010
Khalwat Cinta
Sedulurku tercinta,munafik itu sifat yang lahir berbeda dengan yang di batin,Gibran bilang: bagusnya pakaianmu tidak bisa menutupi busuknya prilakumu.Rumi dengan nada yang sama menyatakan: nampak dipermukaan air itu tenang tetapi di kedalamannya bertumpuk bangkai-bangkai hewan.Lihatlah kisah ini kawan : Di sebuah Pesantren Jawa Timur,ada seorang Ibu Nyai yang selalu menjawab pertanyaan setiap orang--termasuk santri muqim dan alumni--manakala sowan ke Kiainya : beliau baru khalwat di kamar,manakala ingin bersalaman,ulurkan tangan leawt lubang itu,beliau nanti menyalaminya.Memang Kiai ini guru sebuah Thariqah,sehingga khalwat adalah bagian dari riyadhah yang mengasyikkan.Biasanya durasi waktunya,3 hari dalam sebulan,40 hari dalam setahun,tetapi ini aneh khalwat sudah mencapai 5 tahun.Memang Kiai ini selama berkeluarga belum dikaruniai anak,umurnya sudah separo abad,tetapi karena kepasrahan hatinya semua hal tidak menjadi masalah,termasuk belum punya anak itu.Semua tamu sedemikian percaya penuh,dengan bukti setiap mereka mengulurkan tangannnya,dari dalam lubang itu ada yang menyalaminya.Adapun Ibu Nyai ini umurnya separuh dari Kiai,setia mengatur semua kegiatan di pesantren ini.Mulai dari pembangunan pesantren,jadwal pengajian rutinan harian,peringatan hari besar Islam,haflah akhirussanah,menghadiri undangan masyarakat yang hajatan--selama suaminya khalwat itu.Sudah menjadi pengetahuan umum di kalangan pesantren,ada beberapa santri khidmah dalem(melayani kegiatan di rumah Kiainya),semua sedemikian percaya penuh tidak ada yang syu'dhan apa-apa.Termasuk salah satu santri laki-laki dewasa yang selalu menemani Ibu Nyai,kemana pun beliau pergi.Cinta nafsu bermula dari kebiasaan (tresno jalaran soko kulino).Ibu Nyai ini,yang dimuliakan dari sudut apa saja oleh Kiai--ya suaminya itu--menuruti bisikan tercela dalam bentuk bersilengkuh dengan santri yang rutin mengantarkan kemana ia pergi.Skenario dirancang oleh Ibu Nyai bersama santri dalem itu : Kiai thariqoh itu dibunuh berdua,dengan cara dijerat lehernya dengan tali tambang plastik,seterusnya digali kuburannya dalam kamar itu juga.Sedangkan untuk mengatasi jabat tangan melewati lubang sediameter lengan orang,diatasi santri selingkuhannya itu.Semua nampak beres,tetapi selama lima tahun itu bukan waktu yang pendek.Ada seorang santri yang shaleh,dalam tidurnya ia bermimpi Kiainya meninggal,malah dialah yang ikut memanggul kerandanya itu.Hal ini disampaikan kepada Ibu Nyai,malah memperoleh dampratan sampai menyumpah serapahi santri shaleh itu.Lagi-lagi santri bermimpi untuk yang ke dua kalinya.Kali ini bukan bicara lagi sama Ibu Nyai,tetapi seluruh santri yang puluhan itu mendobrak kamar yang disebut untuk khalwat,mereka menemukan kerangka Kiainya setelah membongkar kuburnya,dikamar khalwat itu.Kali ini Ibu Nyai dan santri dalem itu gantian yang mondok : di penjara puluhan tahun.........Kawan-kawan,sekelas Ibu Nyai syari'at tentu paham termasuk santrinya itu,tetapi pemahaman ilmu tanpa kehadiran Tuhan di hatinya,justru menjadi selubung cahaya.Gelapnya hati menjadikan seluruh komponen tubuh rusak,penampilan lahiriyah tidak menjamin prilakunya yang bersumber di hati sangat bahimiyah (kehewanan).Akalnya jelas berjalan,tetapi hatinya mati,hatinya mati,hatinya mati,hatinya mati,hatinya mati........di Pesantren yang diberkahi itu,benar adanya Kiai itu khalwat dengan kekasihnya,abadi.Ibu Nyai dan santri itu bagai ayam mati di lumbungnya.....
Mimpi Cinta
Sedulurku tercinta,ada seorng adik mencari kakaknya--keduanya perempuan--selama lima tahun.Pencarian ini bermula ketika setiap lebaran,adik itu menanyakan kepada kakak iparnya: dimana mbakyu itu? Selalu,suaminya ini menjawab bahwa dia pergi tanpa pamit,dia juga mencari--kata suami kakaknya itu.Kejadian ini di Kota Semarang.Ikhtiar adik itu sedemikian melas (kasihan),sampai menunda untuk menikah,meninggalkan kerja,lupa dirinya.Kota demi kota,orang pintar semua disambanginya,lewat pengumuman media masa,pamplet-pamplet dipasang dengan tulisan tangannya.Aneh,suami kakaknya itu kok santai saja,tidak kemana-mana,tetapi setiap lebaran sowan ke mertuanya juga.Cuma kalau dia ditanya soal istrinya,selalu menjawab minggat (pergi nggak pamit),tanpa beban.Setiap menjelang tidur,adik itu selalu membacakan atau menghadiahi Fatihah untuk kakaknya--selalu itu--dengan harapan kakak perempuannya itu bisa ketemu,kalau dia mati bisa ditemukan kuburnya.Ketika dia menginap di rumah kakak iparnya itu,ada kejadian aneh dalam tidurnya,dia bermimpi ketemu kakaknya,kakak itu bilang : Dik,engkau jangan mencari aku,berhentilah dari usahamu itu,aku kasihan sama kamu Dik,aku tidak kemana-mana kok,aku tetap di rumah ini,tempatku berada tepat dibawah meja makan itu.Adik itu begitu bangun menahan nafas,menguatkan emosi,tetapi airmatanya meleleh,kangen sama mbakyunya terbayar walau dalam mimpi.Dua hari dia di situ mengalami mimpi yang sama,dengan kalimat yang sama.Setelah itu dia memberanikan diri bilang sama kakak iparnya atas kejadian dalam mimpi dua malam berturut-turut,bagai Nabi Ibrahim ditagih Tuhan soal mengorbankan anaknya itu.Kakak itu malah menjawab bahwa mimpi itu bunganya tidur,malah ujungnya mengancam,kalau sampai membuktikan mimpi ini lalu membongkar lantai rumah ini,akan dilaporkan ke polisi.Derita yang panjang dalam pencarian,kerinduan cinta yang panjang atas tali persaudaraan dan kekeluargaan--tali cinta--menjadikan jawaban kakak iparnya itu sebuah tantangan tanpa ketakutan.Esok harinya,dia tidak pulang ke rumah kampung,tetapi justru mengajak polisi mendatangi rumah kakaknya itu--dengan resiko--kalau tidak benar maka dia akan ditahan sebagaimana ancaman kakak iparnya itu.Betapa kaget kakak iparnya itu,karena kedatangannya kembali ke rumahnya membawa beberapa polisi,adik itu sambil membawa pacul dan linggis,untuk membongkar lantai tepat dibawah meja makan itu,sebagaimana khabar mimpi,mimpi cinta dari kakaknya tersayang yang hilang dengan lintasan waktu yang panjang.Terjadilah pertentangan hebat,antara adik itu dan kakak ipar,ia dilarang membongkar sejengkal bidang pun di rumah itu.Tetapi polisi menengahi,kalau mimpinya itu tidak benar,adik perempuan itu akan ditahan,pembongkaran berdasar khabar mimpi akhirnay terjadi.Saat tepat adik itu akan membongkar,kakak iparnya lunglai,keringat dingin keluar,mulutnya terkunci.Lelaki itu merebut alat-alat yang dipegang adik iparnya,tetapi polisi lebih sigap mengantisipasi dia.Ternyata,belum sampai pembongkaran sebegitu dalam,baru terbuka salah satu keramiknya,tepat di bawah meja makan rumah itu,nampaklah lembaran baju yang sudah amat diketahui adik itu,baju kakaknya.Jerit tangis membahama di rumah itu,khabar mimpi itu benar adanya : Dik,aku tidak ke mana-mana kok,aku tetap di rumah ini,tempatku tepat di bawah meja makan......Kawan-kawan,jangan kau katakan orang yang mati itu mati--kata Tuhan--mereka tetap hidup,sayang kamu semua tidak mengetahui.Akhirnya kakak iparnya itulah yang digelandang polisi.Bagi Rumi,tidur itu sebenarnya mabuk Tuhan,semua panca indera mati,yang menyala ruh itu,Tuhan mengabari sesuatu itu bisa melalui mimpi,bahkan mimpi itu pintunya mukasyafah,tersingkapnya rahasia-rahasia,lagi-lagi tinggal kualias cermin kita.......
Langganan:
Postingan (Atom)