Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Mei 2011

Ya Thayyibah

Ya Thayyibah
Wahai kota Madinah


Ya thayyibah ya thayyibah, ya dawal ‘ayaanaa
Wahai thayyibah (kota Madinah), wahai penawar mata
Istaghnaalik, walhawa nadaanaa
Kami merindukanmu, dan cinta memanggil kami

Sayyidi yaa abaa bakrin, hubbukum fil qiyaamah dukhri
Tuanku wahai Abu Bakar, cinta kepadamu adalah harapanku di hari kiamat
Ya ‘umar iqdlihi bi ‘umriy, wakadaa sayyidiy ‘utsmaana
Wahai Umar, kuhabiskan umurku baginya, juga tuanku Utsman

Yaa ‘aliy yabna abiy thoolib, minkumu mashdarul mawaahib
Waha Ali, wahai anak Abu Thalib, darimulah sumber segala anugerah
Hal turo hal uro lihaajib, ‘indakum afdlolul ghilmaanaa
Apakah terlihat oleh kedua mata, di sisimu dua pemuda yang terutama

Asyaadil hasan wal husaini, ilaannabiy qurrot ‘aini
Junjunganku Hasan dan Husain buah hati sang Nabi
Ya syabaabal jannataini, jaddukum shoohibul qur’aana
Wahai pemuda surga, datukmu adalah sang nerima mu’jizat (qur’an)

Washolaatullohi ta’alaa, ‘alaa man kallamal ghozaalah
Shalawat Allah swt, atas beliau yang berbincang dengan kijang
Wal aali ash-haabil kamaali, wal ash-haabi man ‘alau syaanaa
Dan keluarga yang sempurna, serta sahabat yang berkedudukan tinggi

Minggu, 08 Mei 2011


Kau minta aku menulis cinta

Aku tak tahu huruf apa yang pertama dan seterusnya

Kubolak-balik seluruh abjad

Kata-kata cacat yang kudapat



Jangan lagi minta aku menulis cinta

Huruf-hurufku, kau tahu,

bahkan tak cukup untuk namamu



Sebab cinta adalah kau, yang tak mampu kusebut

kecuali dengan denyut

Minggu, 09 Mei 2010

KH. M. Arwani Amin



Ditulis oleh Rosidi


Sosok Alim, Santun dan Lembut
ImageYanbu’ul Qur’an Adalah pondok huffadz terbesar yang ada di Kudus. Santrinya tak hanya dari kota Kudus. Tetapi dari berbagai kota di Nusantara. Bahkan, pernah ada beberapa santri yang datang dari luar negeri seperti Malaysia dan Brunei Darussalam.

Pondok tersebut adalah pondok peninggalan KH. M. Arwani Amin. Salah satu Kyai Kudus yang sangat dihormati karena kealimannya, sifatnya yang santun dan lemah lembut.
KH. M. Arwani Amin dilahirkan dari pasangan H. Amin Sa’id dan Hj. Wanifah pada Selasa Kliwon, 5 Rajab 1323 H., bertepatan dengan 5 September 1905 M di Desa Madureksan Kerjasan, sebelah selatan masjid Menara Kudus.

Nama asli beliau sebenarnya Arwan. Tambahan “I” di belakang namanya menjadi “Arwani” itu baru dipergunakan sejak kepulangannya dari Haji yang pertama pada 1927. Sementara Amin bukanlah nama gelar yang berarti “orang yang bisa dipercaya”. Tetapi nama depan Ayahnya; Amin Sa’id.
KH. Arwani Amin adalah putera kedua dari 12 bersaudara. Saudara-saudara beliau secara berurutan adalah Muzainah, Arwani Amin, Farkhan, Sholikhah, H. Abdul Muqsith, Khafidz, Ahmad Da’in, Ahmad Malikh, I’anah, Ni’mah, Muflikhah dan Ulya.

Dari sekian saudara Mbah Arwani (demikian panggilan akrab KH. M. Arwani Amin), yang dikenal sama-sama menekuni al-Qur’an adalah Farkhan dan Ahmad Da’in.

Ahmad Da’in, adiknya Mbah Arwani ini bahkan terkenal jenius. Karena beliau sudah hafal al-Qur’an terlebih dahulu daripada Mbah Arwani. Yakni pada umur 9 tahun. Ia bahkan hafal Hadits Bukhori Muslim dan menguasai Bahasa Arab dan Inggris.
Kecerdasan dan kejeniusan Da’in inilah yang menggugah Mbah Arwani dan adiknya Farkhan, terpacu lebih tekun belajar.

Konon, menurut KH. Sya’roni Ahmadi, kelebihan Mbah Arwani dan saudara-saudaranya adalah berkat orangtuanya yang senang membaca al-Qur’an. Di mana orangtuanya selalu menghatamkan membaca al-Qur’an meski tidak hafal.
Selain barokah orantuanya yang cinta kepada al-Qur’an, KH. Arwani Amin sendiri adalah sosok yang sangat haus akan ilmu. Ini dibuktikan dengan perjalanan panjang beliau berkelana ke berbagai daerah untuk mondok, berguru pada ulama-ulama.
Tak kurang, 39 tahun beliau habiskan untuk berkelana mencari ilmu. Diantara pondok pesantren yang pernah disinggahinya menuntut ilmu adalaj pondok Jamsaren (Solo) yang diasuh oleh Kyai Idris, Pondok Tebu Ireng yang diasuh oleh KH. Hasyim Asy’ari dan Pondok Munawir (Krapak) yang diasuh oleh Kyai Munawir.

Selama menjadi santri, Mbah Arwani selalu disenangi para Kyai dan teman-temannya karena kecerdasan dan kesopanannya. Bahkan, karena kesopanan dan kecerdasannya itu, KH. Hasyim Asy’ari sempat menawarinya akan dijadikan menantu.
Namun, Mbah Arwani memohon izin kepada KH. Hasyim Asy’ari bermusyawarah dengan orang tuanya. Dan dengan sangat menyesal, orang tuanya tidak bisa menerima tawaran KH. Hasyim Asy’ari, karena kakek Mbah Arwani (KH. Haramain) pernah berpesan agar ayahnya berbesanan dengan orang di sekitar Kudus saja.

Akhirnya, Mbah Arwani menikah dengan Ibu Nyai Naqiyul Khud pada 1935. Bu Naqi adalah puteri dari KH. Abdullah Sajad, yang sebenarnya masih ada hubungan keluarga dengan Mbah Arwani sendiri.
Dari pernikahannya dengan Bu Naqi ini, Mbah Arwani diberi empat keturunan. Namun yang masih sampai sekarang tinggal dua, yaitu KH. M. Ulinnuha dan KH. M. Ulil Albab, yang meneruskan perjuangan Mbah Arwani mengasuh pondok Yanbu’ sampai sekarang.
Yah, demikian besar jasa Mbah Arwani terhadap Ummat Islam di Indonesia terutama masyarakat Kudus, dengan kiprahnya mendirikan pondok yang namanya dikenal luas hingga sekarang.

Banyak Kyai telah lahir dari pondok yang dirintisnya tersebut. KH. Sya’roni Ahmadi, KH. Hisyam, KH. Abdullah Salam (Kajen), KH. Muhammad Manshur, KH. Muharror Ali (Blora), KH. Najib Abdul Qodir (Jogja), KH. Nawawi (Bantul), KH. Marwan (Mranggen), KH. Ah. Hafidz (Mojokerto), KH. Abdullah Umar (Semarang), KH. Hasan Mangli (Magelang), adalah sedikit nama dari ribuan Kyai yang pernah belajar di pondok beliau.
Kini, Mbah Arwani Amin telah tiada. Beliau meninggal dunia pada 1 Oktober 1994 M. bertepatan dengan 25 Rabi’ul Akhir 1415 H. Beliau meninggal dalam usia 92 tahun.
Namun, meski beliau telah meninggal dunia, namanya tetap harum di hati sanubari masyarakat. Pondok Yanbu’ul Qur’an, Madrasah TBS, Kitab Faidlul Barakat dan berbagai kitab lain yang sempat ditashihnya, menjadi saksi perjuangan beliau dalam mengabdikan dirinya terhadap masyarakat, ilmu dan Islam.***
[Rosidi/Arwaniyyah]

- www.arwaniyyah.com -

Sepeda Cinta

oleh : Kiai Budi


Sedulurku tercinta, kalau ada apa saja dilaporkan ke Kiai yang satu ini, buruk atau baik, suka atau duka, selalu beliau berkata pelaan--sae-sae (bagus-bagus). Harap maklum, dalam pandangan batin beliau ini, mana af'al Allah yang tidak baik. Beliau disamping begawan Qur'an, menguasahi kitab kuning, dan wira'i (orang yang menjaga adab). Pesantrennya menelorkan jagoan hafidz yang menyebar di seluruh nusantara, bahkan sampai tetangga negara ini. Tutur katanya lembut, kalau pas ngendikan (berkata-kata) sambil merunduk. Pelayanan kepada masyarakat bagian dari nafas hidupnya, tidak bermobil, tidak sepeda motor--saat zaman itu, pakai sepeda onthel. Tirakat semacam ini amat mafhum, sebab menanggung derita dengan manis adalah adab yang harus dibayar dalam ranah cinta. Manakala mengabulkan permintaan masyarakat, beliau mengayuh sepeda, sementara santri yang diboncengkannya. Selalu begitu. Misalnya ada orang sowan (silaturrahmi), bilang kalau dirinya masih suka nonton bioskop, beliau lembut bilang--sae-sae. Ternyata sampai dirumah menjadi bahan diskusi panjang, pada ujungnya temannya ada yang menjawab, sae menurut Yai itu, hanya bagus menurut hawa nafsumu bukan menurut yang sejati. Kalau ada yang mengadu tentang musibah, Yai juga bilang sae, ternyata sae disini pada ujung diskusi bahwa setiap apapun--termasuk tertusuk jarum--sebagai tebusan dosa dan kesalahan. Semua sae, namun sae itu bertingkat-tingkat. Pada suatu saat, Yai mendatangi lokasi pengajian (semaan), yang tadinya cuaca terang, baru separo perjalanan mengasuh sepeda, hujan datang, berteduhlah disuatu gardu kampung. Begitu hujan reda, yang namanya jalan ndeso, tadinya mulus berbalik becek, perjalanan masih tiga kilometer. Nak,,--dawuh Yai, untuk bisa pulang kita nanti bermalam di sana, menanti jalan bagus, maka sekarang bawalah ini sandalku, aku yang memanggul sepedanya. Yai,,--jerit santri, akulah yang memanggul, jangan Yai. Tidak Nak--lanjut Yai, saksikanlah Nak, aku memberi pelajaran kepadamu, semoga hidupmu berkah, aku tunjukkan Nak kalau ingin tahu jalur tercepat rahmat Gusti Allah turun kepadamu, bayarlah ongkos pelayanan tanpa pamrih ini. Tidak Yai,,--pekik santri. Tidak Nak cah bagus--sambung Yai. Santri menerima sandal dengan gemetaran seluruh sendi tubuhnya, air matanya mulai keluar. Langit bumi menjadi saksi. Seorang begawan Qur'an nampak sedang memanggul sepeda sepanjang jalan tiga kilo meter, sambil menjawab sapaan setiap orang yang bertemu, sambil senyum. Santri dengan merunduk ketakdziman, dengan berurai air mata sepanjang jalan, sambil curi2 pandang--ternyata sambil memanggung sepeda onthel bibir Yai ndremimil tadarus Qur'an dengan bisik2, bagai bercumbu dengan Tuhan....Kawan-kawan, inilah sepenggal kisah orang sholeh, Romo K.H.Arwani Kudus pengasuh Pesantren Huffadz Yambuul Quran, istriku salah satu dari alumni pesantren beliau (Allahu yarham). Kalau engkau pernah mendengarkan kefasihan dariku saat aku dendangkan Quran, itu karena keberkahan beliau, lewat aku mengecup bibir istriku itu kali....:)

Kamis, 06 Mei 2010

Parkir Cinta

oleh : Kiai Budi


Sedulurku tercinta, pada saat perempuan-perempuan yg di undang oleh siti Zulaikhah memandang pesona kegantengan Nabi Yusuf As, maka pisau yg sebenarnya untuk membelah mangga ternyata malah mengiris-ngiris tangan mereka, namun tidak terasa berkat pesona itu. Hal ini bisa berlaku juga pada pesona kecantikan wanita, wajah, alis, tai lalat, dan kemerah-merahan bibirnya, Tuhan lebih nampak terang dibalik selubung halus itu. Inilah yg melatar belakangi wanita itu disebut bayang-bayang Tuhan. Kesadaran ini dimiliki oleh seorang kiyai ndeso (kampung) dimana jamaliyah Tuhan terselubungi oleh pesona wanita. Kenyataan ini sangat real didepan mata beliau ketika tetangganya nanggap dangdut dengan penyanyi-penyanyi berbusana minim sampai-sampai ketika mereka berjingkrak—maaf—terlihat celana dalamnya yg sebenarnya untuk menutupi barang yg diselempitkan Tuhan itu. Pertunjukan ini membikin penonton bergembira ria sampai-sampai tak kenal lelah, tak kenal waktu, dan menjadi fly. Drama ini bukan tanpa sepengetahuan kyai, malah yg punya gawe pernah mohon restu kapadanya, dan dijawab,,apik,apik,apik. Dan—Masya Allah—kyai kampung itu ambil peran membantu yg punya gawe menjadi tukang parkir kendaraan penonton dibantu para murid-muridnya. Sehingga sepertinya kyai itu bilang menontonlah dengan tenang, aku jaga kendaraan-kendaraan kamu itu. Bagi murid beliau, melihat pesona yg dipandang penonton itu bagai lilin-lilin kecil karena didadanya telah beliau tunjukkan ada matahari. Kalau didadamu ada matahari mangapa terpesona pada lilin, kalau dadamu bagai samudera mengapa terkecoh oleh sungai-sungai, sehingga pribadi murid itu menjadi megah. Kalau toh kenyataan didepan mata penonton itu terpesona kepada selubung-selubung halus, itu hanya merupakan tanjakan yang pada akhirnya, sesuai dengan perkembangan jiwa-jiwa seiring waktu akan naik juga dan berkembang. Latarkabunna Thobaqon Anthobaq (Sungguh kamu semua akan naik setingkat demi setingkat). Pemahaman ini yang menjadikan kyai kampung itu memiliki adab tidak mau memperolok-olok, merendah-rendahkan , dan menghakimi pihak lain, karena beliau tau betul Uluhiyah dan Rububiyah Tuhan yang bersumber dari yang Satu itu. Kegembiraan penonton dipandang sebagai hal yang temporal dan non-eksistensi, hanya selayang pandang, tidak abadi. Maka setelah usai perhelatan itu, suasana kembali ke sepi, sepi,sepi,sepi, dan sunyi. Sementara kegembiraan yg sesaat itu lepas, mereka kembali dihadapkan pada kenyataan-kenyataan hidup, pekerjaan tidak jelas, jodoh juga tidak jelas kapan, anak-anak besok harus sarapan pagi, istrinya menagih balanja, hutang belum terbayar, dan lain sebagainya. Bagi para biduan esok paginya harus mengundang tukang pijet karena terkilir pantatnya saat goyang ngebor, ngecor, dan goyang patah-patah, semuanya terlelap dibuai malam. Namun kyai kampung ini justru terjaga beserta murid-muridnya di Musholla sebelah rumah, menyongsong cahaya subuh dengan takbir sholatnya, dan bermunajat yang diamini santrinya dengan kegairahan dan nyala hati,,,Ya Allah malam ini kami bersyukur bisa melayani mereka dengan menjadi tukang parkir. Mereka baru melihat selubung-selubung halus-Mu, mereka sudah ambruk dan bersimpuh lupa selain itu. Kami mohon kepada-Mu tingkatkan pandangan mata hati mereka untuk sampai memandang-Mu, memandang-Mu, memandang-Mu... Melihat pesona-pesona itu saja mereka sudah bergembira ria, andai melihat pesona-pesona-Mu tentu kegembiraan itu menjadi tak terkira,,,. Kawan-kawan, doa kyai itu diamini dengan air mata para santrinya tepat pada saat Tarkhim bergema,,,Ashssholatuwassalamualaik, Ya Rasuuuuulallooooooh.......

Pijet Cinta

oleh Kiai Budi



Sedulurku tercinta,Anda bila mengeng cinta Ibumu,pasti tumpah ruah hatimu,dari sanalah cinta tidak bisa diterangkan namun kuyup dirasakan,yang pada ujungnya kita sadari tak terbalaskan.Ibumu,Ibum,Ibumu--sabda kekasih Allah itu.Memang aku selalu bilang dimana-mana,bila anda ingin memahami cinta,jangan sekedar membaca leteratur cinta,namun tataplah aura ibumu,ibumu,ibumu.Kalau panjenengan melihat pada diriku percikan cinta,maka aku akui percikan itu bersumber dari cinta Ibuku itu.Ketika aku menyaksikan dari dirimu percikan cinta,aku yakin itu bersumber dari cinta Ibumu itu.Kalau sampai hari ini Ibu panjenengan masih sehat menemanimu,berbahagialah kawanku,bisa kau tumpahkan segala cinta dan takdzimmu padanya,doa-doamu bisa diamini beliau yang menjadikan Tuhan sungkan kalau sampai tidak mengabulkan harapa-harapanmu,atas keramat bibir Ibumu mengaminimu itu.Ridlo beliau menjadi tanjakan ridloNya,duko beliau menjadi jatuhnya murkaNya.Aku mendoakan Ibumu semua,sehat wal afiat dan panjang umur,bisa menyaksikan nyanyian-nyanyianmu,dosa-dosanya diampuni Tuhan,bukankah hati orang tua bernyanyi pada anak-anaknya.Senyum Ibumu terhadapmu,bagiku cukup menjadi saksi atas senyum Tuhan itu padamu kawan.Berbahagialah engkau masih ditungguhi Ibumu!Bagi yang Ibunya sudah meninggal,seperti aku,ayolah kita lanjutkan kidung cintanya menebar tanpa batas,dengan sesama.Kalau mereka orang tua,anggaplah orang tuamu,kalau mereka lebih tua anggaplah kakakmu,kalau mereka sama umurmu anggaplah teman dan sahabatmu,kalau mereka lebih muda anggaplah adikmu,kalau mereka anak-anak anggaplah anak-anakmu jua.Semua keluarga Tuhan,jangan kita sakiti,harus kita bahagiakan.Bermula dari Ibuku,yang membiasakan terhadap anak-anaknya,kalau dipandang lelah,Ibuku menawarkan untuk memijiti sudah sambil memegang kaki kami---kesel yo Le (payah ya Nak),sapanya kala aku merebahkan tubuh di amben (ranjang kayu) rumah ndeso,menit-menit berikutnya aku sudah terlelap,masih terasa didekap dengan kehangatan cintanya,diwaktu kecil.Begitu aku bangun,semua sudah tersedia,makan ya Le(nak),atau mandi dulu (anduk,sandal,sikat gigi,sabun mandi sudah disiapkan),sambil menata rambut untuk digelung,karena ketika aku tidur,ibuku ribet terjaga menyediakan segalanya,aku tersenyum dan mengangguk,tapi hati ini dalam pandangan abstrak,Tuhan lebih hadir dihatiku lewat kehalusan dan pelayanan Ibuku,Ibumu juga kan begitu kawan2.Yang terakhir,setelah semuanya aku nikmati,masyaAllah,Ibuku mengajak sembahyang berjamaah--Le,ayo berjamaah,pintanya seperti biasanya kalau aku sowan.Inilah kawan,kenikmatan puncak hidupku,aku menghadap Tuhan di kawal oleh Ibu,pada posisi iitu aku merasa seperti disodorkan Tuhan,sepertinya Ibuku matur sama Allah,inilah milikMu ya Allah yang Kau tirtipkan padaku,pantaskah,pantaskah,pantaskah,pantaskah ya Allah?Seluruh sendiku lunglai,airmataku tumpah,mulutku terkunci,apalagi saat aku memanjatkan doa,aku hanya bisa menangis sesenggukan,dengan harapan biarlah Ibuku yang pantas memohonkan atas harapan-harapan ini.Pernah aku pamit menghaturkan sedikit uang,Ibuku bilang,untuk apa Le,biarlah untuk anak-anakmu saja yang mondok itu,bagiku buat apa.Ternyata itu pertemuan terakhir terhadap Ibuku,karena tiga hari setelah itu,pada saat beliau melayani orang punya gawe,membungkusi brekat,tanpa sakit,pada saat aku mau naik podium di pengajian,adikku menelpon Ibu meninggal....Kawan2,sekarang aku punya kamu,aku punya kamu,kalau Ibumu masih hidup,tolong bilanglah kepadanya,bolehkah aku mendaftar sebagai anak Ibumu,sehingga engkau di hatiku bukan orang lain,bukan orang lain,tapi engkau saudaraku.Kalau engkau menglami kelelahan seperti diriku saat sowan Ibuku,rebahkan dirimu kawan-kawan,tentu aku meniru Ibuku,akan aku pijiti kamu-kamu sepenuh cinta seperti cinta Ibuku padaku...Ayolah kawan,aku pijiti kamu.....

Minggu, 02 Mei 2010

becak cinta

oleh : Kiai Budi



Sedulurku tercinta,tidak lengkap rasanya kalau kisah orang sholeh ini tidak aku percikkan,karena menuturkan sejarah dan sifat orang sholeh,wewangian adab mereka akan memercik ke kita,serta mendongengkan fadhilah2 mereka akan memberkati kita,bahkan manakala menemukan kuburan mereka dianjurkan berziarah,jasad mereka meninggal tapi tidak ruhnya.Tuhan sendiri yang menyatakan,jangan kamu katakan bahwa orang yang berjalan di Jalan Allah itu mati,mereka tetap hidup,sayang kamu sekalian tidak mengerti.Aku tahu kesalehan mereka karena pas mengisi acara ditempatnya,sekitar Semarang ini,kota atlas.Orang sholeh ini,tidak berpangkat,tidak berdarah biru,tidak kaya bahkan tidak punya apa-apa,kecuali cinta,orang kecil (wong cilik) tetapi jiwanya besar,tidak dikenal dunia,insya Allah masyhur disisiNya.Dia tukang becak,ya becak itu yang menjadi sarananya cari kawelasan dari Allah,umurnya dihabiskan mbecak sampai serenta itu,enam puluh tahun lebih,tapi sorot matanya menyiratkan hasrat jiwa yang menyala,hingga orang yang setara dia sudah lumpuh,otot dia terenergi oleh semangat yang membara.Ketika dia narik becak nafasnya berdzikir dan bersholawat,dengan gagah dan megah bagai nakoda kapal mengarungi samudra.Setiap yang naik becaknya,dia tanpa transaksi uang,diantar kemana mereka tuju,ketika diberi hadian uang,ia terima dengan takdzim dan rasa syukur tiada tara,sambil mendoakan yang memberi dalam banyak hal,panjang umur,murah rejeki,anak saleh dan seterusnya.Ternyata malah melebihi andai ia main transaksi.Seminggu dia mbecak,ada satu hari dia libur,preinya ini bukan tidak mbecak tetapi dia tetep mbecak namun membebaskan orang menghadiahinya,ini dia lakukan pas pada hari Jumat.Kebiasaan itu sudah dilakukan puluhan tahun,dengan niat yang sangat indah,mohon kepada Allah supaya mengantarkan dia bisa ziarah ke makan kekasihnya,Kanjeng Nabi itu.Gayung bersanbut,Kanjeng Nabi selalu tidak mengecewakan umatnya,yang mendamba.Pas pada hari Jumat ia dinas mbecak ada seseorang suruh mengantar agak begitu jauh,tapi dia tidak mengeluh,desahan nafasnya terdengar oleh yang naik becak itu,selawatan melulu,dzikir melulu.Begitu sampai dan berhenti,orang itu menghadiai segepok uang sebagai bayarannya,terutama terimakasihnya atas desahan nafas yang indah itu.Tentu dia tolak karena pas hari Jumat,ia tak pernah ingkar janji.Dengan takdzim dia bilang,punten mas,untuk hari ini aku tidak bisa menerima uang panjenengan,untuk menepati janjiku.Terhenyak ini orang sambil tanya--kenapa mbah,engkau telah demikian payah mengantarku,ada apa sebenarnya?Tukang becak tua itu sambil tersenyum ompongnya bilang,mas kalau pas Jumat begini aku bebaskan orang yangt naik becakku,lakon ini sebagai jeritan rinduku kepada Kanjeng Nabi yang telah memperkenalkan hatiku dengan Allah,menunjukkan Akhirat,mengkadoi aku Qur an,menjajikanku syafaat,walau bagiku tidak mun gkin untuk bisa ziarah ke makamnya,tapi aku yakin Kanjeng Nabi menjawab setiap keronto-ronto umatnya,dia tidak akan mengecewakan aku.Runtuhlah hati orang yang naik becak itu,air matanya muncrat,mulut terkunci,dalam ranah hati yang tersentuh cinta,kata-kata menjadi hilang seketika.Dengan terbata-bata orang yang naik becak itu bilang,kalau begitu mbah berbahagialah engkau sama istrimu,mungkin lewat aku,akan aku hajikan engkau berdua.Empat mata saling bertatapan,airmata sama2 keluar,kata2 hilang,ruang rindu menjelang.Tukang becak itu bersimpuh terimakasih yang tak terhingga,Kanjeng Nabi mendengar dan menjawab....Kawan2,bernyanyilah,Yaa imaamarrusli yaa sanadi anta bakdulloohi muktamadi fabidunyaya waakhiroti yaa Rosulallahi khudbiyadi(Waha iImam para Rasul,wahai sandaran hatiku,engkaulah setelah Allah gondelanku,dunia akhiratku wahai Rasulullah,ambillah tanganku),,,,Pada saatnya brangkat ziarah haji,orang yang membeayayi itu mengantar sampai bandara,melihat mereka berdua terbang menemui yang dirindukan,lalu ia sama istri dan anaknya balik ,didera oleh percikan rindu yang dimiliki tukang mbecak itu,,,,,,,