Tampilkan postingan dengan label kiai budi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kiai budi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Agustus 2010

Puing Cinta

oleh : Kiai Budi

Sedulurku tercinta,sepulang pengajian tadi malam,di ruang khalwatku berdiri sosok sedang tahajjud,lama dia wiridan sampai menjelang Subuh,aku tunggu sampai selesai sembahyang.Namanya Priono,asli Semarang,umurnya 45 tahun,masih lajang,ahli pijat,terusir dari sebuah lembaga sosial yang berlabel agama,kini ia berada di depanku,subhanallah: dia cacat mata,tetapi tidak matahatinya.Lembaga agama ini telah direkamnya sedemikian rupa dengan kejujuran nuraninya: dalam kajian agama (islam) nampak semua dilarang--misalnya--Yasinan,Tahlilan,Nariyahan,Puji-pujian sebelum sembahyang.Yasin benar tetapi Yasinan salah,Tahlil benar tetapi tahlilan salah dan seterusnya--katanya.Kalau shalat mereka pakai celana komprang,tanpa peci.Menurut kisahnya: selalu mencari kesalahan orang sesama muslim.Atas kehadirannya di Rumah Cinta ini,setelah terusir dari lembaga itu,karena dia melakukan hal-hal yang menurut mereka salah itu,bid'ah itu,khurafat itu,tahayul itu.Pengusiran kepadanya itu bagian dari shok terapi--kata mereka.Ternyata sedulur kita yang buta ini,dengan segala bawaannya yang sedemikian banyak itu,pergi meninggalkan lembaga sosial yang berlabel agama ini,entah ke mana,dan sampai di depan mataku ini.Aku sambut dia dengan suka cita,aku nyatakan dia adalah saudaraku,kita sesama makhluk Sang Pencipta yang Esa,kita adalah sama,dicipta dari tanah yang sama.Sekarang dia menjadi temanku,teman dalam jalan kehidupanku yang bisa membantu dalam memahami kebenaran yang tersembunyi,aku pandang dia tidak cacat--walau buta--dan dia aku pandang manusia seutuhnya,aku nyatakan: aku sayang padanya.Dia tersenyum gembira--sekarang--dia baru sarapan pagi seadanya di sisiku.Bahkan aku bilang,mintalah apa saja dariku,kau adalah saudaraku,aku menyayangimu,bahkan aku menyayangi orang yang bersimpuh di kuil,aku menyayangi orang yang berdo'a di gereja,kita adalah anak-anak dari Satu Keyakinan,Sang Khalik,siapa pun berada dalam jemari Ilahi,dituntun jalan ke arah kesempurnaan Ruhani.Aku menyayangimu Kang Priono,abadi bersama kekekalan cinta dan keindahannya,aku menyayangimu sebab telah kisaksikan dirimu remuk dan begitu rentan di depan penjajah yang keji,sedemikian melarat serta miskin,terusir di hadapan ketamakan,aku menangis demi kepentinganmu,dan dibalik air mataku aku mencoba menatap : kau ditemani Dia,aku aku mendekatimu dalam usahaku mendekati Dia.Kau adalah--aku temukan--seorang pengelana mencari sesuap nasi dan perlindungan di sahara kehidupan ini,tetapi mereka tidak menerimamu,bagaimana aku bisa bersenang-senang dibalik deritamu ini.Kau begitu mandiri: dengan tongkat di tangamu,kau telusuri kegelapan untuk berwudhu,mandi,sembahyang maka jadilah kau tidak buta,cahaya di mata hatimu terang benderang.Atas kehadiranmu,mengingatkan aku pada Kanjeng Nabi yang terusir oleh orang-orang itu,aku ingat akan tersalibnya Juru Selamat itu,aku ingat akan Socrates yang diberi racun untuk meminumnya.Ternyata Kanjeng Nabi tidak bisa dibunuh,sebab beliau hidup dalam keabadian Cinta,Socrate tidak bisa dihancurkan di Athena,sebab bilau hidup dengan keabadian kebenaran,cela dan hina tiada dapat menang melawan siapa pun yang menuruti jiwa kemanusiaan,dan mengikuti jejak-jejak para malaikat,mereka akan terus hidup dan berkembang tumbuh selamanya.Aku pun berucap kepada Kang Priono ini: sesungguhnya rumah yang menolak memberi sepotong roti atau seteguk air atau sepiring nasi,sesungguhnya rumah yang menolak untuk sebuah amben(ranjang) pada mereka yang memerlukan,sangatlah layak untuk disebut puing-puing reruntuhan dan rumah terbengkelai.Aku sayang kamu Kang Priono,aku sayang kamu,aku sayang kamu,aku sayang kamu,aku sayang kamu,aku sayang kamu,aku sayang kamu,aku sayang kamu,aku sayang kamu......Kawan2,kini aku lihat dia tersenyum,surga menyalakan kembali lentera dengan keharuman semerbak,aku minta dia damai di rumah ini sebagai mana harapannya,karena telah ditelusuri kegelaqpan ini tiada yang mau menampungnya,malah mengusirnya,aku melakukan ini sebab dia bukan orang lain dalan ranah keTauhidan hidupku,dan kini dia mau shalat dhuha dengan langkah tongkat di tangannya,sementara aku memandang dengan derai air mata......Selamat datang saudaraku di rumah Cinta ini.aku sayang kamu...

Kamis, 10 Juni 2010

Ingat Cinta

oleh : Kiai Budi

Sedulurku tercinta,ingat itu bahasa arabnya dzikir,dzikir dalam agama sebagai perbuatan ibadah,dimana puncaknya itu tercapainya kedudukan atau maqam dimana dzikir dan kesadaran tiba-tiba muncul melalui pertolongan Allah yang disertai kehebatan dan keberkahan dzikir itu sendiri,sebagaimana yang dinyatakan dalam hadis Qudsi itu : HambaKu senantiasa mendekatiKu dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya.Jika Aku telah mencitainya maka Aku menjadi telingaja yang dengannya ia mendengar,menjadi matanya yang dengannya ia melihat,dan menjadi tangannya yang dengannya ia mengambil,dan menjadi kakinya yang dengannya ia berjalan.Seandainya ia meminta kepadaKu,tentu Aku akan meberinya,dan seandainya ia meminta perlindungan kepadaku,tentu Aku akan memberikannya.Kalau ini ternyata belum bisa dicapai,maka boleh jadi kita akan menapaki dzikir sebelumnya,yakni dzikir yang dapat menggambarkan keadaan batin,dimana rasa takut dan kesadaran akan Allah (taqwa) dan amalam dzikir menguasahi si pencari yang sedang menempuh Jalan,sehingga ia benar-benar berpisah perhatiannya dengan dunia.Bila ternyata tingkatan ini belum bisa kita tanjaki,maka bisa dilakukan dengan dzikir sebelumnya lagi,yakni menyebut secara berulang-ulang nama Allah,atau yang lebih dikenal wirid.Amalan ini bisa dilakukan dengan niat yang ikhlas,sadar, dan konsentrasi penuh--biasanya dibimbing oleh pemandu atau guru itu.Kalau ternyata hal ini masih berat juga dilakukan,maka kita akan selalu mengingat Allah dalam setiap saat,ketika sedang terjaga,dalam kehidupan seseorang.Dalam level ini dzikir sebagai hakekat dari perjuangan melawan bisikan Iblis yang selalu berusaha memalingkan kita agar lalai dari mengingat Allah.Tingkatan ini dimaksudkan dan ditujukan agar setiap sat jiwa selalu dalam keadaan diridhoi Allah--misalnya : sabar ketika menderita,bersyukur ketika memperoleh kebaikan,menyesali perbuatan yang salah,dan memiliki harapan untuk memperoleh ampunan.Keadaan ini akan meningkatkan iman ,dan meningkatkan kesadaran.Kesadaran bahwa Allah pada posisi sebagai kekasih,tentu sebagai kekasih pasti akan mengingat dan mengejar ridha Kekasih,dan dambaan kekasih hanyalah perjumpaan dengan Kekasih.Diingatnya Kekasih meningkat pada dipandangnya Kekasih dengan kedua mata hatinya,hati mengenal Kekasih dan melihatnya,bahagia kekasih bila dapat mendekati Kekasih,puncaknya tidak ingat apapun kecuali Kekasih.Inilah ingat Cinta,dimana Tuhan menjadi Pelaku dalam setiap ucapan dan perbuatan atas orang-orang yang Dia sucikan--pada umumnya orang menyebut fana atau lenyapnya diri.Dia berbicara melalui orang-orang yang Dia sucikan itu,mereka semua abadi ingatnya kepad a Allah.Adalagi orang yang ingat kepada Allah dengan lisannya tetapi hatinya lalai,ada orang yang ingat kepada Allah dengan lisannya yang disertai kehadiran hatinya itu--walau dzikirnya mencari-cari pahala--hal ini masih bisa dibenarkan.Adalagi orang ingat ke Allah dengan hatinya--tidak sekedar lesan dan hadirnya hati.Orang semacam ini hatinya dipenuhi dengan Allah,dan lisannya tidak mengucapkan apap pun.Lisannya telah memasuki sirr,hatinya yang berada dalam rahasia Cinta,Cinta itu dalam rahasia Cahaya,dan pandangan seperti ini merupakan hal yang tidak bisa digambarkan--inilah misteri itu--kecuali pandangan langsung.......Kawan-kawan semua Nabi dan Rasul menyeru kepada manusia supaya mengingat dan mengucapkan Allah.Orang yang hanya mendengarkannya dengan telinga saja,lafal itu akan keluar melalui telinga lainnya,orang yang mendengarnya dengan hatinya,maka lafal itu akan menghujam dalam hatinya,lalu meningkat--dengan cara diulang--sampai pada terbebasnya dari bunyi dan huruf,lalu menjadi asyik di dalamnya sehingga mereka tidak lagi sadar akan keberadaan dirinya........Ingatanku yang mana ini,Wahai Kekasih...

Musik Cinta

oleh : Kiai Budi

Sedulurku tercinta,aku sangat mendukung musik dan tarian sebagai salah satu metode untuk melatih spiritual.Seandainya ada larangan musik--setahuku--itu tidak mengikat,artinya banyak ahli fikih yang secara spesifik meperbolehkan musik bagi orang-orang yang memiliki cukup kekuatan untuk mengendalikan diri.Kalau ada yang melarang itu hanya semacam kekhawatiran kalau musik hanya dinikmati secara indera yang lepas kontrol--mengumbar syahwat.Tetapi kalau musik dinikmati dengan hening,dalam kondisi fokus (khusyu') dan jauh dari keadaan yang tidak menyenangkan--misalnya dalam keadaan tidak lapar,sakit,atau jiwa yang ragu--musik dapat mempengaruhi bertambah kuatnya memahami keindahan Ilahi robbi.Inilah yang bisa kita sebut Musik Cinta,karena apa saja sebenarnya di semesta ini bisa menjadi isyarat jiwa dan perantara jiwa untuk memahami keindahan Ilahi itu.Efek ini bisa menjadi tambah kuat melalui bentuk tarian,karena gerakan tubuh yang berulang-ulang--khususnya yang memutar-mutar itu--bisa menyerupai gerakan putaran semesta,pengaruhnya terhadap tubuh dan jiwa bisa naik ke awang-awang--bagai mi'raj itu.Hal ini bisa terjadi karena keindahan dari benda-benda duniawi selaras dengan keindahan Ilahi,karena keindahan dan keadilan di alam ini,merefleksikan ketauhidan Tuhan,Allah itu.Karena itu tidak aneh kalau orang melihat wajah yang rupawan,bau parfum yang sangat wangi,dan suara indah dan merdu dapat mendorong seseorang untuk mempersepsikan keindahan Tuhan dan dengan cara demikian akan menjadikan manusia terbebas melampaui pembatas-pembatas jiwanya.Gambaran ini sama dengan ayat-ayat yang disampaikan para Nabi yang tiada bandingannya untuk membangkitkan gairah imajinasi dari orang-orang yang--maaf--bebal.Bila demikian,dari melampaui batas-batas jiwanya itu orang dapat terbebas dari dominasinya dan beralih pada kepatuhan dan keyakinan atau iman itu.Coba dengarkanlah orkrestanya Bitoven,orkrastanya Ummi Kultsum,orkrastanya Kiai Kanjeng Cak Nun itu,atau apa saja musik kesukaanmu,maka di situ kita akan merasakan keagungan Tuhan dengan keadaan yang sesuai penggapaian jiwa terhadap keindahan Ilahi itu.Andai seburuk apapun musik--aku terharu--bagi Gus Mik melihat bahwa musik sedemikian saja dan dengan tarian yang sensual itu,tetap menjadi tanda-tanda (jelas memberhala--maaf),dan dido'akan : Ya Allah,orang-orang ini melihat dan mendengar demikian saja sudah mabuk kepayang,bimbinglah hatinya untuk menanjak memandangMu,tentu mereka akan mengalami jutaan kali kemabukan atas pasona keindahan MU itu.Sebagaimana Rumi,yang mendengar ketukan tukang pande besi yang demikian saja,ditelinga orang pukulan besi itu berbunyi: dang,deng,dong,dang,deng,dong,tetapi di hati Rumi bunyi pukulan besi itu menjadi musik cinta : hu,hu,hu,hu,Dia,Dia,Dia,Dia.Dalam seribu kemabukan Rumi,menari bagai tarian semesta pada porosnya,sampai kakinya bisa terangkat satu meter dari atas tanah,bagai gasing itu.Dan sampai hari ini tidak ada satupun yang sudah belajar tari Darwis ini puluhan tahun,bisa menyamai Rumi menari itu,walau 4000 penari datang saat khulnya itu,tak satupun bisa..........Kawan-kawan,bagaimana diri kita kala mendengar musik alam : burung menyanyi,deru gelombang lautan,angin mendesir pada gesekan daun bambu,tetesan air hujan dari atas genting :tik,tik,tik,halilintar menggelegar,katak bernyanyi pada sepanjang malam hari,anjing mengonggong,ayam berkokok,kambing mengembik,singa mengaum,,adzan menggema,tarkhim membahana di fajar hari,Qur'an mengalun dari bibir qori'nya,gema shalawat dengan rancak rebananya,gitar dipetik,biola digesek,seruling ditiup,drum di pukul,mandolin dimainkan,siter dibunyika,gendang ditabuh,gamelan dialunkan,jangkrik berjingkrak dengan kidung semalam,sampai bunyi kentut dengan berbagai variasinya itu.Andai kita bayangkan dakam waktu yang bersamaan,bukanlah itu musik orkresta alam yang sangat indah,yang tak bisa ditiru oleh siapapun dan mengema agung dalam jeritan hati : hu,hu,hu,hu,hu,hu,Dia,Dua,Dia,Dia,Dia,Dia........Engkaupun menari dalam kemabukan ini,sebab mana yang tidak mengabarkan tentang Dia,bagai Rumi menari itu.......

Minggu, 09 Mei 2010

Sepeda Cinta

oleh : Kiai Budi


Sedulurku tercinta, kalau ada apa saja dilaporkan ke Kiai yang satu ini, buruk atau baik, suka atau duka, selalu beliau berkata pelaan--sae-sae (bagus-bagus). Harap maklum, dalam pandangan batin beliau ini, mana af'al Allah yang tidak baik. Beliau disamping begawan Qur'an, menguasahi kitab kuning, dan wira'i (orang yang menjaga adab). Pesantrennya menelorkan jagoan hafidz yang menyebar di seluruh nusantara, bahkan sampai tetangga negara ini. Tutur katanya lembut, kalau pas ngendikan (berkata-kata) sambil merunduk. Pelayanan kepada masyarakat bagian dari nafas hidupnya, tidak bermobil, tidak sepeda motor--saat zaman itu, pakai sepeda onthel. Tirakat semacam ini amat mafhum, sebab menanggung derita dengan manis adalah adab yang harus dibayar dalam ranah cinta. Manakala mengabulkan permintaan masyarakat, beliau mengayuh sepeda, sementara santri yang diboncengkannya. Selalu begitu. Misalnya ada orang sowan (silaturrahmi), bilang kalau dirinya masih suka nonton bioskop, beliau lembut bilang--sae-sae. Ternyata sampai dirumah menjadi bahan diskusi panjang, pada ujungnya temannya ada yang menjawab, sae menurut Yai itu, hanya bagus menurut hawa nafsumu bukan menurut yang sejati. Kalau ada yang mengadu tentang musibah, Yai juga bilang sae, ternyata sae disini pada ujung diskusi bahwa setiap apapun--termasuk tertusuk jarum--sebagai tebusan dosa dan kesalahan. Semua sae, namun sae itu bertingkat-tingkat. Pada suatu saat, Yai mendatangi lokasi pengajian (semaan), yang tadinya cuaca terang, baru separo perjalanan mengasuh sepeda, hujan datang, berteduhlah disuatu gardu kampung. Begitu hujan reda, yang namanya jalan ndeso, tadinya mulus berbalik becek, perjalanan masih tiga kilometer. Nak,,--dawuh Yai, untuk bisa pulang kita nanti bermalam di sana, menanti jalan bagus, maka sekarang bawalah ini sandalku, aku yang memanggul sepedanya. Yai,,--jerit santri, akulah yang memanggul, jangan Yai. Tidak Nak--lanjut Yai, saksikanlah Nak, aku memberi pelajaran kepadamu, semoga hidupmu berkah, aku tunjukkan Nak kalau ingin tahu jalur tercepat rahmat Gusti Allah turun kepadamu, bayarlah ongkos pelayanan tanpa pamrih ini. Tidak Yai,,--pekik santri. Tidak Nak cah bagus--sambung Yai. Santri menerima sandal dengan gemetaran seluruh sendi tubuhnya, air matanya mulai keluar. Langit bumi menjadi saksi. Seorang begawan Qur'an nampak sedang memanggul sepeda sepanjang jalan tiga kilo meter, sambil menjawab sapaan setiap orang yang bertemu, sambil senyum. Santri dengan merunduk ketakdziman, dengan berurai air mata sepanjang jalan, sambil curi2 pandang--ternyata sambil memanggung sepeda onthel bibir Yai ndremimil tadarus Qur'an dengan bisik2, bagai bercumbu dengan Tuhan....Kawan-kawan, inilah sepenggal kisah orang sholeh, Romo K.H.Arwani Kudus pengasuh Pesantren Huffadz Yambuul Quran, istriku salah satu dari alumni pesantren beliau (Allahu yarham). Kalau engkau pernah mendengarkan kefasihan dariku saat aku dendangkan Quran, itu karena keberkahan beliau, lewat aku mengecup bibir istriku itu kali....:)

Sabtu, 08 Mei 2010

Loading Cinta


oleh : Kiai Budi

Sedulurku tercinta,dalam kepasrahan do'a,yang kita yakini bahwa Tuhan Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan dan Maha Indah lainnya,cukup kiranya menjadikan kita tinggal menunggu jawabanNya. Hasrat cita dan harapan manakala telah kita setorkan datanya ke Tuhan, bagai menanam benih dalam tanah tinggal menunggu musim semi, percayalah. Menanamnya itu yang menjadi syarat sunnahnya, soal hasil itu mau langsung, atau ditunda waktunya, atau tersimpan kokoh disisiNya, karena kepasrahan kita, terserah yang andum (membagi), yakni Dia itu yang kita yakini Maha-Maha. Kuatkan hati, dan lihatlah di layar hatimu kawan, ada info jelas kan?--loading--. Sebuah episode hidupku, aku yakin anda punya suasana yang sama, problem saja yang berbeda, saat petugas PLN membongkar listrik pondok karena alasan perintah, setelah gagal aku mengemis waktu mengulur seminggu untuk bisa membayarnya. Memang ini kesalahanku, telat tiga bulan, namun seperti biasanya, walau kadang telat petugas ada yang ridlo memaklumi, kanthong sakuku, yang bukan pengusaha, bukan pegawai, bukan siapa-siapa--tetapi kali ini tidak. Listrik dibongkar. Bisa anda bayangkan, semuanya macet. Seluruh penghuni komplek aku kumpulkan pada malam hari, ditengah cahaya lilin, di aula yang saat itu Cak Nun menyebut komplek ini sebagai rumah cinta. Aku memberi arahan, jangan sampai ada yang mengeluh, kita menimba sumur tua itu untuk mandi dan wudlu, carilah kaleng atau botol kratingdaeng untuk bikin lampu oncor, nikmati ini dan kegelapan ini sampai Dia bekerja, tunggulah. Aku baru tahu beberapa hari ini, di komputer, istilah menanti jawaban atas setoran data-data--namanya loading--. Ada yang bisa beli genset, tapi kemampuannya tak mencukupi lokasi komplek, sangat terang. Ada yang beli lilin2, lampu teplok, dan ada yang tidak mau pakai apa-apa. Ketika larut, aku pandang dari kejauhan sedikit, ada orkresta warna di pesantren ini, diterangi temaram cahaya rembulan, yang tentu sampai padhang mbulan, purnama. Usai ngaji, ada yang tetabuhan, jithungan, shalawatan, aku rasakan ada orkrasta musik saja kayaknya. Aku tersenyum, siapa bilang derita itu derita--gumamku. Bisa saja bagimu pahit, bagiku manis, bagimu derita bagiku kegembiraan, bagimu racun yang mematikan bagiku ternyata terasa madu yang mengobati. Suasana itu berjalan tiga bulan tidak terasa, kalau ada yang silaturrahim menonjok pertanyaan soal kegelapan, aku bilang--mpun rejekine (sudah rezekinya), biasa kan aku sambil tersenyum. Pada saat aku bersama Cak Nun da M.Nuh (sebelum jadi mentri) di Bang-Bang Wetan, istriku menelpon kalau malam ini ada pimpinan pusat PLN Jakarta, menengok bongkaran dan menikmati kegelapan kita. Kata istriku, mereka semua menangisi sikapnya dan mohon ampun atas pembongkarannya. Saat pejabat itu menelpon, aku bilang--tidak apa-apa, kami masih dikasih tenaga Allah untuk mencari duit, sampai kami bisa masang lagi, kapan-kapan, ampun pemerintah. Begitu aku sampai rumah, pembongkar itu bersimpuh menunggu, sebelum mereka bicara, aku tahu kehadiran tanpa aku rindukan dan bukan atas kerinduannya---pasanglah lagi sebagaimana engkau semua membongkarnya, kataku pelan tanpa dendam. Malah ketua pembongkar itu pada pamitnya meminta aku menikahkan keluarganya, aku sanggupi juga, biar dia pulang tanpa tangan hampa....Kawan,dia pulang pamit tersenyum bibirnya, menetes airmatanya,,, Maafkan aku Mas-Mas,selamat bekerja semoga baik-baik adanya,,,,,

Kamis, 06 Mei 2010

Parkir Cinta

oleh : Kiai Budi


Sedulurku tercinta, pada saat perempuan-perempuan yg di undang oleh siti Zulaikhah memandang pesona kegantengan Nabi Yusuf As, maka pisau yg sebenarnya untuk membelah mangga ternyata malah mengiris-ngiris tangan mereka, namun tidak terasa berkat pesona itu. Hal ini bisa berlaku juga pada pesona kecantikan wanita, wajah, alis, tai lalat, dan kemerah-merahan bibirnya, Tuhan lebih nampak terang dibalik selubung halus itu. Inilah yg melatar belakangi wanita itu disebut bayang-bayang Tuhan. Kesadaran ini dimiliki oleh seorang kiyai ndeso (kampung) dimana jamaliyah Tuhan terselubungi oleh pesona wanita. Kenyataan ini sangat real didepan mata beliau ketika tetangganya nanggap dangdut dengan penyanyi-penyanyi berbusana minim sampai-sampai ketika mereka berjingkrak—maaf—terlihat celana dalamnya yg sebenarnya untuk menutupi barang yg diselempitkan Tuhan itu. Pertunjukan ini membikin penonton bergembira ria sampai-sampai tak kenal lelah, tak kenal waktu, dan menjadi fly. Drama ini bukan tanpa sepengetahuan kyai, malah yg punya gawe pernah mohon restu kapadanya, dan dijawab,,apik,apik,apik. Dan—Masya Allah—kyai kampung itu ambil peran membantu yg punya gawe menjadi tukang parkir kendaraan penonton dibantu para murid-muridnya. Sehingga sepertinya kyai itu bilang menontonlah dengan tenang, aku jaga kendaraan-kendaraan kamu itu. Bagi murid beliau, melihat pesona yg dipandang penonton itu bagai lilin-lilin kecil karena didadanya telah beliau tunjukkan ada matahari. Kalau didadamu ada matahari mangapa terpesona pada lilin, kalau dadamu bagai samudera mengapa terkecoh oleh sungai-sungai, sehingga pribadi murid itu menjadi megah. Kalau toh kenyataan didepan mata penonton itu terpesona kepada selubung-selubung halus, itu hanya merupakan tanjakan yang pada akhirnya, sesuai dengan perkembangan jiwa-jiwa seiring waktu akan naik juga dan berkembang. Latarkabunna Thobaqon Anthobaq (Sungguh kamu semua akan naik setingkat demi setingkat). Pemahaman ini yang menjadikan kyai kampung itu memiliki adab tidak mau memperolok-olok, merendah-rendahkan , dan menghakimi pihak lain, karena beliau tau betul Uluhiyah dan Rububiyah Tuhan yang bersumber dari yang Satu itu. Kegembiraan penonton dipandang sebagai hal yang temporal dan non-eksistensi, hanya selayang pandang, tidak abadi. Maka setelah usai perhelatan itu, suasana kembali ke sepi, sepi,sepi,sepi, dan sunyi. Sementara kegembiraan yg sesaat itu lepas, mereka kembali dihadapkan pada kenyataan-kenyataan hidup, pekerjaan tidak jelas, jodoh juga tidak jelas kapan, anak-anak besok harus sarapan pagi, istrinya menagih balanja, hutang belum terbayar, dan lain sebagainya. Bagi para biduan esok paginya harus mengundang tukang pijet karena terkilir pantatnya saat goyang ngebor, ngecor, dan goyang patah-patah, semuanya terlelap dibuai malam. Namun kyai kampung ini justru terjaga beserta murid-muridnya di Musholla sebelah rumah, menyongsong cahaya subuh dengan takbir sholatnya, dan bermunajat yang diamini santrinya dengan kegairahan dan nyala hati,,,Ya Allah malam ini kami bersyukur bisa melayani mereka dengan menjadi tukang parkir. Mereka baru melihat selubung-selubung halus-Mu, mereka sudah ambruk dan bersimpuh lupa selain itu. Kami mohon kepada-Mu tingkatkan pandangan mata hati mereka untuk sampai memandang-Mu, memandang-Mu, memandang-Mu... Melihat pesona-pesona itu saja mereka sudah bergembira ria, andai melihat pesona-pesona-Mu tentu kegembiraan itu menjadi tak terkira,,,. Kawan-kawan, doa kyai itu diamini dengan air mata para santrinya tepat pada saat Tarkhim bergema,,,Ashssholatuwassalamualaik, Ya Rasuuuuulallooooooh.......

Pijet Cinta

oleh Kiai Budi



Sedulurku tercinta,Anda bila mengeng cinta Ibumu,pasti tumpah ruah hatimu,dari sanalah cinta tidak bisa diterangkan namun kuyup dirasakan,yang pada ujungnya kita sadari tak terbalaskan.Ibumu,Ibum,Ibumu--sabda kekasih Allah itu.Memang aku selalu bilang dimana-mana,bila anda ingin memahami cinta,jangan sekedar membaca leteratur cinta,namun tataplah aura ibumu,ibumu,ibumu.Kalau panjenengan melihat pada diriku percikan cinta,maka aku akui percikan itu bersumber dari cinta Ibuku itu.Ketika aku menyaksikan dari dirimu percikan cinta,aku yakin itu bersumber dari cinta Ibumu itu.Kalau sampai hari ini Ibu panjenengan masih sehat menemanimu,berbahagialah kawanku,bisa kau tumpahkan segala cinta dan takdzimmu padanya,doa-doamu bisa diamini beliau yang menjadikan Tuhan sungkan kalau sampai tidak mengabulkan harapa-harapanmu,atas keramat bibir Ibumu mengaminimu itu.Ridlo beliau menjadi tanjakan ridloNya,duko beliau menjadi jatuhnya murkaNya.Aku mendoakan Ibumu semua,sehat wal afiat dan panjang umur,bisa menyaksikan nyanyian-nyanyianmu,dosa-dosanya diampuni Tuhan,bukankah hati orang tua bernyanyi pada anak-anaknya.Senyum Ibumu terhadapmu,bagiku cukup menjadi saksi atas senyum Tuhan itu padamu kawan.Berbahagialah engkau masih ditungguhi Ibumu!Bagi yang Ibunya sudah meninggal,seperti aku,ayolah kita lanjutkan kidung cintanya menebar tanpa batas,dengan sesama.Kalau mereka orang tua,anggaplah orang tuamu,kalau mereka lebih tua anggaplah kakakmu,kalau mereka sama umurmu anggaplah teman dan sahabatmu,kalau mereka lebih muda anggaplah adikmu,kalau mereka anak-anak anggaplah anak-anakmu jua.Semua keluarga Tuhan,jangan kita sakiti,harus kita bahagiakan.Bermula dari Ibuku,yang membiasakan terhadap anak-anaknya,kalau dipandang lelah,Ibuku menawarkan untuk memijiti sudah sambil memegang kaki kami---kesel yo Le (payah ya Nak),sapanya kala aku merebahkan tubuh di amben (ranjang kayu) rumah ndeso,menit-menit berikutnya aku sudah terlelap,masih terasa didekap dengan kehangatan cintanya,diwaktu kecil.Begitu aku bangun,semua sudah tersedia,makan ya Le(nak),atau mandi dulu (anduk,sandal,sikat gigi,sabun mandi sudah disiapkan),sambil menata rambut untuk digelung,karena ketika aku tidur,ibuku ribet terjaga menyediakan segalanya,aku tersenyum dan mengangguk,tapi hati ini dalam pandangan abstrak,Tuhan lebih hadir dihatiku lewat kehalusan dan pelayanan Ibuku,Ibumu juga kan begitu kawan2.Yang terakhir,setelah semuanya aku nikmati,masyaAllah,Ibuku mengajak sembahyang berjamaah--Le,ayo berjamaah,pintanya seperti biasanya kalau aku sowan.Inilah kawan,kenikmatan puncak hidupku,aku menghadap Tuhan di kawal oleh Ibu,pada posisi iitu aku merasa seperti disodorkan Tuhan,sepertinya Ibuku matur sama Allah,inilah milikMu ya Allah yang Kau tirtipkan padaku,pantaskah,pantaskah,pantaskah,pantaskah ya Allah?Seluruh sendiku lunglai,airmataku tumpah,mulutku terkunci,apalagi saat aku memanjatkan doa,aku hanya bisa menangis sesenggukan,dengan harapan biarlah Ibuku yang pantas memohonkan atas harapan-harapan ini.Pernah aku pamit menghaturkan sedikit uang,Ibuku bilang,untuk apa Le,biarlah untuk anak-anakmu saja yang mondok itu,bagiku buat apa.Ternyata itu pertemuan terakhir terhadap Ibuku,karena tiga hari setelah itu,pada saat beliau melayani orang punya gawe,membungkusi brekat,tanpa sakit,pada saat aku mau naik podium di pengajian,adikku menelpon Ibu meninggal....Kawan2,sekarang aku punya kamu,aku punya kamu,kalau Ibumu masih hidup,tolong bilanglah kepadanya,bolehkah aku mendaftar sebagai anak Ibumu,sehingga engkau di hatiku bukan orang lain,bukan orang lain,tapi engkau saudaraku.Kalau engkau menglami kelelahan seperti diriku saat sowan Ibuku,rebahkan dirimu kawan-kawan,tentu aku meniru Ibuku,akan aku pijiti kamu-kamu sepenuh cinta seperti cinta Ibuku padaku...Ayolah kawan,aku pijiti kamu.....

Minggu, 02 Mei 2010

becak cinta

oleh : Kiai Budi



Sedulurku tercinta,tidak lengkap rasanya kalau kisah orang sholeh ini tidak aku percikkan,karena menuturkan sejarah dan sifat orang sholeh,wewangian adab mereka akan memercik ke kita,serta mendongengkan fadhilah2 mereka akan memberkati kita,bahkan manakala menemukan kuburan mereka dianjurkan berziarah,jasad mereka meninggal tapi tidak ruhnya.Tuhan sendiri yang menyatakan,jangan kamu katakan bahwa orang yang berjalan di Jalan Allah itu mati,mereka tetap hidup,sayang kamu sekalian tidak mengerti.Aku tahu kesalehan mereka karena pas mengisi acara ditempatnya,sekitar Semarang ini,kota atlas.Orang sholeh ini,tidak berpangkat,tidak berdarah biru,tidak kaya bahkan tidak punya apa-apa,kecuali cinta,orang kecil (wong cilik) tetapi jiwanya besar,tidak dikenal dunia,insya Allah masyhur disisiNya.Dia tukang becak,ya becak itu yang menjadi sarananya cari kawelasan dari Allah,umurnya dihabiskan mbecak sampai serenta itu,enam puluh tahun lebih,tapi sorot matanya menyiratkan hasrat jiwa yang menyala,hingga orang yang setara dia sudah lumpuh,otot dia terenergi oleh semangat yang membara.Ketika dia narik becak nafasnya berdzikir dan bersholawat,dengan gagah dan megah bagai nakoda kapal mengarungi samudra.Setiap yang naik becaknya,dia tanpa transaksi uang,diantar kemana mereka tuju,ketika diberi hadian uang,ia terima dengan takdzim dan rasa syukur tiada tara,sambil mendoakan yang memberi dalam banyak hal,panjang umur,murah rejeki,anak saleh dan seterusnya.Ternyata malah melebihi andai ia main transaksi.Seminggu dia mbecak,ada satu hari dia libur,preinya ini bukan tidak mbecak tetapi dia tetep mbecak namun membebaskan orang menghadiahinya,ini dia lakukan pas pada hari Jumat.Kebiasaan itu sudah dilakukan puluhan tahun,dengan niat yang sangat indah,mohon kepada Allah supaya mengantarkan dia bisa ziarah ke makan kekasihnya,Kanjeng Nabi itu.Gayung bersanbut,Kanjeng Nabi selalu tidak mengecewakan umatnya,yang mendamba.Pas pada hari Jumat ia dinas mbecak ada seseorang suruh mengantar agak begitu jauh,tapi dia tidak mengeluh,desahan nafasnya terdengar oleh yang naik becak itu,selawatan melulu,dzikir melulu.Begitu sampai dan berhenti,orang itu menghadiai segepok uang sebagai bayarannya,terutama terimakasihnya atas desahan nafas yang indah itu.Tentu dia tolak karena pas hari Jumat,ia tak pernah ingkar janji.Dengan takdzim dia bilang,punten mas,untuk hari ini aku tidak bisa menerima uang panjenengan,untuk menepati janjiku.Terhenyak ini orang sambil tanya--kenapa mbah,engkau telah demikian payah mengantarku,ada apa sebenarnya?Tukang becak tua itu sambil tersenyum ompongnya bilang,mas kalau pas Jumat begini aku bebaskan orang yangt naik becakku,lakon ini sebagai jeritan rinduku kepada Kanjeng Nabi yang telah memperkenalkan hatiku dengan Allah,menunjukkan Akhirat,mengkadoi aku Qur an,menjajikanku syafaat,walau bagiku tidak mun gkin untuk bisa ziarah ke makamnya,tapi aku yakin Kanjeng Nabi menjawab setiap keronto-ronto umatnya,dia tidak akan mengecewakan aku.Runtuhlah hati orang yang naik becak itu,air matanya muncrat,mulut terkunci,dalam ranah hati yang tersentuh cinta,kata-kata menjadi hilang seketika.Dengan terbata-bata orang yang naik becak itu bilang,kalau begitu mbah berbahagialah engkau sama istrimu,mungkin lewat aku,akan aku hajikan engkau berdua.Empat mata saling bertatapan,airmata sama2 keluar,kata2 hilang,ruang rindu menjelang.Tukang becak itu bersimpuh terimakasih yang tak terhingga,Kanjeng Nabi mendengar dan menjawab....Kawan2,bernyanyilah,Yaa imaamarrusli yaa sanadi anta bakdulloohi muktamadi fabidunyaya waakhiroti yaa Rosulallahi khudbiyadi(Waha iImam para Rasul,wahai sandaran hatiku,engkaulah setelah Allah gondelanku,dunia akhiratku wahai Rasulullah,ambillah tanganku),,,,Pada saatnya brangkat ziarah haji,orang yang membeayayi itu mengantar sampai bandara,melihat mereka berdua terbang menemui yang dirindukan,lalu ia sama istri dan anaknya balik ,didera oleh percikan rindu yang dimiliki tukang mbecak itu,,,,,,,