Aku mencintaimu, bahkan kini aku harus mengaku,
Cintaku tetap hidup jauh di dalam hatiku.
Tapi aku tak ingin membuatmu menderita,
Kuharap kau tak berduka karenanya.
Diam-diam putus asa aku mencintaimu,
Tersiksa, aku terlalu cemburu dan pemalu.
Semoga Tuhan memberimu orang lain yang mencintaimu,
Selembut dan sesungguh-sungguh aku.
Sabtu, 11 Juni 2011
Jaminan Pasar Beras !
Suara Rakyat, Minggu 12 Juni 2011
Berita tentang sulit nya Perum Bulog mendapatkan gabah atau beras dalam rangka pengadaan stock nasional, sebetul nya bukan hal yang perlu dipertanyakan. Sudah sejak lama organisasi petani mengusulkan agar Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk gabah dan beras dinaikan secara proporsional. Sayang, usulan ini tidak ditanggapi dengan serius. Pemerintah, rupa nya lebih memilih bahwa untuk tahun 2011 ini, pilihan kebijakan nya adalah dengan tidak menaikkan HPP. Pertimbangan nya, bisa dikarenakan terlalu takut nya Pemerintah terhadap meningkat nya angka inflasi, tapi bisa juga disebabkan oleh ketidak-siapan Pemerintah dalam merubah kebijakan harga beras murah menjadi kebijakan harga beras yang kompetitif.
Salah satu masalah yang dihadapi oleh para petani padi adalah masih diberlakukan nya kebijakan harga pangan murah, khusus nya untuk komoditas gabah dan beras. Pemerintah rupa nya masih terobsesi oleh fenomena masa lalu bahwa gabah atau beras itu adalah komoditas politik yang perlu ditangani secara serius dan khusus. Di mata Pemerintah, gabah atau beras, kelihatan nya tetap harus dikendalikan. Komoditas ini tidak boleh dibiarkan tampil bebas sebagaimana komoditas-komoditas pangan lain nya. Perlakuan khusus terhadap gabah atau beras, wajar terjadi, karena sekali nya kita salah menerapkan kebijakan maka beras pun dapat berubah menjadi senjata yang mematikan (food is weapons).
Kondisi harga gabah atau beras yang terjadi beberapa bulan belakangan ini, benar-benar sangat menguntungkan petani. Harga gabah di beberapa sentra produksi yang selalu di atas harga HPP, menunjukkan bahwa nilai tambah ekonomi yang diperoleh petani akan semakin baik. Justru yang menjadi soal berikut nya adalah Pemerintah (dalam hal ini Perum Bulog) tampak kesulitan melakukan pengadaan dalam negeri, baik untuk program Raskin atau pun untuk cadangan Pemerintah. Berbasis pada fakta di lapangan, rupa nya Perum Bulog masih belum mampu bersaing secara sehat dan profesional dengan kalangan swasta, yang tentu saja lebih memahami seluk beluk "berdagang" gabah atau beras.
Perum Bulog sebagai BUMN, tampak masih kebingungan memainkan peran PSO (Public Service Obligation) dan Bisnis nya. Apalagi jika ujung-ujung nya harus berhadapan dengan aparat pengawasan atau pun aparat penegak hukum, dikarenakan ada hal-hal yang dilanggar nya. Hukum memang tidak bisa dikompromikan. Walau dasar pertimbangan nya melakukan pembelaan terhadap nasib dan kehidupan petani, namun dalam pelaksanaan nya ternyata tidak sesuai dengan peruntukan nya, maka siap-siap saja diri nya menjadi penghuni Hotel Pordeo. Akibat nya wajar, jika banyak petugas Perum Bulog yang bekerja seada nya dan tetap mengacu kepada tupoksi nya. Hasil nya memang terbukti, dari target yang ditetapkan selama 2011, ternyata menjelang selesai nya semester pertama, Perum Bulog secara nasional baru mampu melakukan pengadaan gabah dan beras sekitar 20 % saja.
Dihadapkan pada kondisi yang demikian, tentu nya perlu dipikirkan apa dan bagaimana langkah yang harus ditempuh agar pengadaan gabah dan beras di dalam negeri seperti yang dikelola Perum Bulog tetap mencapai sasaran dan sesuai dengan target yang sudah ditentukan, sekaligus juga harga gabah dan beras di tingkat petani tetap mengikuti mekanisme pasar yang ada. Dengan kata lain dapat juga disebutkan : Pemerintah dapat meningkatkan posisi cadangan gabah dan beras nya secara nasional, sedangkan petani padi sendiri memperoleh harga jual yang menguntungkan. Jika demikian, apa guna nya lagi Pemerintah menetapkan kebijakan HPP, seandai nya harga yang terjadi di pasar, jauh diatas angka HPP ?
HPP gabah dan beras, pada hakekat nya merupakan "jaminan" Pemerintah dalam melakukan pengendalian harga di lapangan. Selain itu, HPP juga dimaksudkan untuk menunjukkan kepada publik bahwa gabah atau beras tetap dijadikan sebagai komoditas politis dan strategis. Pertanyaan nya adalah apakah dengan tidak dinaikkan nya HPP gabah dan beras untuk tahun 2011, Pemerintah masih memandang perlu untuk melindungi para petani ? Jawaban atas pertanyaan ini menjadi sangat penting untuk dicermati, karena siapa tahu saja kita akan dapat memberi solusi yang lebih nyata lagi.
Salam
Berita tentang sulit nya Perum Bulog mendapatkan gabah atau beras dalam rangka pengadaan stock nasional, sebetul nya bukan hal yang perlu dipertanyakan. Sudah sejak lama organisasi petani mengusulkan agar Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk gabah dan beras dinaikan secara proporsional. Sayang, usulan ini tidak ditanggapi dengan serius. Pemerintah, rupa nya lebih memilih bahwa untuk tahun 2011 ini, pilihan kebijakan nya adalah dengan tidak menaikkan HPP. Pertimbangan nya, bisa dikarenakan terlalu takut nya Pemerintah terhadap meningkat nya angka inflasi, tapi bisa juga disebabkan oleh ketidak-siapan Pemerintah dalam merubah kebijakan harga beras murah menjadi kebijakan harga beras yang kompetitif.
Salah satu masalah yang dihadapi oleh para petani padi adalah masih diberlakukan nya kebijakan harga pangan murah, khusus nya untuk komoditas gabah dan beras. Pemerintah rupa nya masih terobsesi oleh fenomena masa lalu bahwa gabah atau beras itu adalah komoditas politik yang perlu ditangani secara serius dan khusus. Di mata Pemerintah, gabah atau beras, kelihatan nya tetap harus dikendalikan. Komoditas ini tidak boleh dibiarkan tampil bebas sebagaimana komoditas-komoditas pangan lain nya. Perlakuan khusus terhadap gabah atau beras, wajar terjadi, karena sekali nya kita salah menerapkan kebijakan maka beras pun dapat berubah menjadi senjata yang mematikan (food is weapons).
Kondisi harga gabah atau beras yang terjadi beberapa bulan belakangan ini, benar-benar sangat menguntungkan petani. Harga gabah di beberapa sentra produksi yang selalu di atas harga HPP, menunjukkan bahwa nilai tambah ekonomi yang diperoleh petani akan semakin baik. Justru yang menjadi soal berikut nya adalah Pemerintah (dalam hal ini Perum Bulog) tampak kesulitan melakukan pengadaan dalam negeri, baik untuk program Raskin atau pun untuk cadangan Pemerintah. Berbasis pada fakta di lapangan, rupa nya Perum Bulog masih belum mampu bersaing secara sehat dan profesional dengan kalangan swasta, yang tentu saja lebih memahami seluk beluk "berdagang" gabah atau beras.
Perum Bulog sebagai BUMN, tampak masih kebingungan memainkan peran PSO (Public Service Obligation) dan Bisnis nya. Apalagi jika ujung-ujung nya harus berhadapan dengan aparat pengawasan atau pun aparat penegak hukum, dikarenakan ada hal-hal yang dilanggar nya. Hukum memang tidak bisa dikompromikan. Walau dasar pertimbangan nya melakukan pembelaan terhadap nasib dan kehidupan petani, namun dalam pelaksanaan nya ternyata tidak sesuai dengan peruntukan nya, maka siap-siap saja diri nya menjadi penghuni Hotel Pordeo. Akibat nya wajar, jika banyak petugas Perum Bulog yang bekerja seada nya dan tetap mengacu kepada tupoksi nya. Hasil nya memang terbukti, dari target yang ditetapkan selama 2011, ternyata menjelang selesai nya semester pertama, Perum Bulog secara nasional baru mampu melakukan pengadaan gabah dan beras sekitar 20 % saja.
Dihadapkan pada kondisi yang demikian, tentu nya perlu dipikirkan apa dan bagaimana langkah yang harus ditempuh agar pengadaan gabah dan beras di dalam negeri seperti yang dikelola Perum Bulog tetap mencapai sasaran dan sesuai dengan target yang sudah ditentukan, sekaligus juga harga gabah dan beras di tingkat petani tetap mengikuti mekanisme pasar yang ada. Dengan kata lain dapat juga disebutkan : Pemerintah dapat meningkatkan posisi cadangan gabah dan beras nya secara nasional, sedangkan petani padi sendiri memperoleh harga jual yang menguntungkan. Jika demikian, apa guna nya lagi Pemerintah menetapkan kebijakan HPP, seandai nya harga yang terjadi di pasar, jauh diatas angka HPP ?
HPP gabah dan beras, pada hakekat nya merupakan "jaminan" Pemerintah dalam melakukan pengendalian harga di lapangan. Selain itu, HPP juga dimaksudkan untuk menunjukkan kepada publik bahwa gabah atau beras tetap dijadikan sebagai komoditas politis dan strategis. Pertanyaan nya adalah apakah dengan tidak dinaikkan nya HPP gabah dan beras untuk tahun 2011, Pemerintah masih memandang perlu untuk melindungi para petani ? Jawaban atas pertanyaan ini menjadi sangat penting untuk dicermati, karena siapa tahu saja kita akan dapat memberi solusi yang lebih nyata lagi.
Salam
Senin, 23 Mei 2011
Ada orang yang mencurahkan semua tenaganya
untuk menaiki tangga karir,
tanpa memeriksa apakah tangga itu
bersandar pada dinding yang tepat.
Karir yang baik adalah tangga yang bersandar pada kebaikan.
Dan dua sebab utama dari ketidak-bahagiaan dalam karir,
adalah salah memilih dinding sandaran
atau salah cara menaiki tangga.
Kebahagiaan adalah masalah pilihan.
Mario Teguh
untuk menaiki tangga karir,
tanpa memeriksa apakah tangga itu
bersandar pada dinding yang tepat.
Karir yang baik adalah tangga yang bersandar pada kebaikan.
Dan dua sebab utama dari ketidak-bahagiaan dalam karir,
adalah salah memilih dinding sandaran
atau salah cara menaiki tangga.
Kebahagiaan adalah masalah pilihan.
Mario Teguh
Ya Thayyibah
Ya Thayyibah
Wahai kota Madinah
Ya thayyibah ya thayyibah, ya dawal ‘ayaanaa
Wahai thayyibah (kota Madinah), wahai penawar mata
Istaghnaalik, walhawa nadaanaa
Kami merindukanmu, dan cinta memanggil kami
Sayyidi yaa abaa bakrin, hubbukum fil qiyaamah dukhri
Tuanku wahai Abu Bakar, cinta kepadamu adalah harapanku di hari kiamat
Ya ‘umar iqdlihi bi ‘umriy, wakadaa sayyidiy ‘utsmaana
Wahai Umar, kuhabiskan umurku baginya, juga tuanku Utsman
Yaa ‘aliy yabna abiy thoolib, minkumu mashdarul mawaahib
Waha Ali, wahai anak Abu Thalib, darimulah sumber segala anugerah
Hal turo hal uro lihaajib, ‘indakum afdlolul ghilmaanaa
Apakah terlihat oleh kedua mata, di sisimu dua pemuda yang terutama
Asyaadil hasan wal husaini, ilaannabiy qurrot ‘aini
Junjunganku Hasan dan Husain buah hati sang Nabi
Ya syabaabal jannataini, jaddukum shoohibul qur’aana
Wahai pemuda surga, datukmu adalah sang nerima mu’jizat (qur’an)
Washolaatullohi ta’alaa, ‘alaa man kallamal ghozaalah
Shalawat Allah swt, atas beliau yang berbincang dengan kijang
Wal aali ash-haabil kamaali, wal ash-haabi man ‘alau syaanaa
Dan keluarga yang sempurna, serta sahabat yang berkedudukan tinggi
Wahai kota Madinah
Ya thayyibah ya thayyibah, ya dawal ‘ayaanaa
Wahai thayyibah (kota Madinah), wahai penawar mata
Istaghnaalik, walhawa nadaanaa
Kami merindukanmu, dan cinta memanggil kami
Sayyidi yaa abaa bakrin, hubbukum fil qiyaamah dukhri
Tuanku wahai Abu Bakar, cinta kepadamu adalah harapanku di hari kiamat
Ya ‘umar iqdlihi bi ‘umriy, wakadaa sayyidiy ‘utsmaana
Wahai Umar, kuhabiskan umurku baginya, juga tuanku Utsman
Yaa ‘aliy yabna abiy thoolib, minkumu mashdarul mawaahib
Waha Ali, wahai anak Abu Thalib, darimulah sumber segala anugerah
Hal turo hal uro lihaajib, ‘indakum afdlolul ghilmaanaa
Apakah terlihat oleh kedua mata, di sisimu dua pemuda yang terutama
Asyaadil hasan wal husaini, ilaannabiy qurrot ‘aini
Junjunganku Hasan dan Husain buah hati sang Nabi
Ya syabaabal jannataini, jaddukum shoohibul qur’aana
Wahai pemuda surga, datukmu adalah sang nerima mu’jizat (qur’an)
Washolaatullohi ta’alaa, ‘alaa man kallamal ghozaalah
Shalawat Allah swt, atas beliau yang berbincang dengan kijang
Wal aali ash-haabil kamaali, wal ash-haabi man ‘alau syaanaa
Dan keluarga yang sempurna, serta sahabat yang berkedudukan tinggi
Minggu, 22 Mei 2011

Ya hanaanaa
Betapa beruntungnya kami
Dhoharoddiinul muayyad, bidhuhurinnabi ahmad
Telah muncul agama yang didukung, dengan munculnya sang Nabi Ahmad
Ya hanaanaa bi Muhammad, dzalikal fadllu minalloh
Betapa beruntungnya kami dengan Muhammad, itulah anugerah dari Allah
Ya hanaanaa, ya hanaanaa, ya hanaanaa, ya hanaanaa
Betapa beruntungnya kami…
Khushsho bissab ‘il matsaaniy, wahawa luthfal ma’aaniy
Diistemewakan dengan as-sab’ul matsaniy (al-Fatihah), penghimpun rahasia setiap makna
Maalahuu filkholqitstsaniy, wa’alaihi anzalalloh
Tak ada yang senilai dengannya, dan Allah mewahyukannya kepadanya (Muhammad SAW)
Ya hanaanaa, ya hanaanaa, ya hanaanaa, ya hanaanaa
Betapa beruntungnya kami…
Min makkatin lamma dhohar, li ajlihinsyaqqol qomar
Ketika di Mekkah bulan tampak terbelah deminya (Muhammad SAW)
Waftakhorrot aalu mudlor, bihi ‘alaa kullil anaami
lalu kabilah mudhar (kabilah Muhammad SAW), menjadi dibanggakan di atas seluruh manusia
Ya hanaanaa, ya hanaanaa, ya hanaanaa, ya hanaanaa
Betapa beruntungnya kami…
Athyobunnasi kholqon, wa ajalunnaasi khuluqon
Beliau adalah manusia yang terbaik ciptaanNya, dan yang teragung akhlaqnya
Dzikruhu ghorban wasyarqon, saairun walhamdulillaah
Semua mengelu-elukannya di barat dan di timur, segala puji bagi Allah
Ya hanaanaa, ya hanaanaa, ya hanaanaa, ya hanaanaa
Betapa beruntungnya kami…
Shollu ‘alaa khoiril anaami, al mushthofa badrittamaami
Bersholawatlah kepada sebaik-baik manusia, yang terpilih, Sang bulan purnama
Shollu ‘alaihi wasallimuu, yasyfa’lanaa yaumazzihaam
Bersholawatlah dan sampaikanlah salam kepadanya, kelak ia kan member syafa’at kepada kita di hari kebangkitan
Ya hanaanaa, ya hanaanaa, ya hanaanaa, ya hanaanaa
Betapa beruntungnya kami…
Pekerjaan yang tidak menyejahterakan adalah penjara yang menyamar
sebagai sumber rezeki.
Semakin keras kita bekerja
di tempat seperti itu,
akan semakin kuat cengkeraman
perasaan takut bahwa tidak ada
rezeki Tuhan di tempat lain.
Perendahan seperti apakah
yang dilalui oleh orang beriman,
yang bisa menghapus keyakinannya
bahwa rezeki Tuhan tersebar di muka bumi?
Berubahlah atau ubahlah keadaan.(MT)
sebagai sumber rezeki.
Semakin keras kita bekerja
di tempat seperti itu,
akan semakin kuat cengkeraman
perasaan takut bahwa tidak ada
rezeki Tuhan di tempat lain.
Perendahan seperti apakah
yang dilalui oleh orang beriman,
yang bisa menghapus keyakinannya
bahwa rezeki Tuhan tersebar di muka bumi?
Berubahlah atau ubahlah keadaan.(MT)
Banyak orang menginginkan keberhasilan yang telah dicapai oleh orang lain,
tapi tidak bersedia meniru rajinnya,
atau mempelajari poses berpikir
dan mengelola keraguan dan ketakutannya,
atau meneladani keikhlasannya untuk memulai dari apa pun yang ada,
atau meneladani kepatuhannya kepada Tuhan.
Kita hanya mau enaknya.
Sesungguhnya, kita telah berlaku tidak adil.(MT)
tapi tidak bersedia meniru rajinnya,
atau mempelajari poses berpikir
dan mengelola keraguan dan ketakutannya,
atau meneladani keikhlasannya untuk memulai dari apa pun yang ada,
atau meneladani kepatuhannya kepada Tuhan.
Kita hanya mau enaknya.
Sesungguhnya, kita telah berlaku tidak adil.(MT)
Minggu, 08 Mei 2011
Membuat KTP di Negara Saya
Jika anda datang ke bapak RT dan minta surat pengantar pembuatan KTP, jangan lupa menitipkan uang kas RT. Karena Pak RT adalah pejabat yang tanpa dibayar mau dengan begitu saja bersama anda menghadapi semua masalah. Dengan kesadaran tinggi, anda semestinya sejak mula sudah mempersiapkannya sebagai bentuk penghargaan. Kemudian jika anda meneruskan ke Pak RW untuk mendapatkan stempel, jangan lupa sisipkan barang dua ribu untuk ganti ongkos rokok yang dia hisap ketika menjamu kehadiran anda. Karena mestinya dia bisa berencana tidak menghisap rokoknya itu jika anda tidak datang.
Jika sampai kelurahan, anda harus membayar kas desa. Karena kas itu akan bermanfaat ketika sudah berkumpul cukup untuk melakukan kegiatan tingkat desa. Jangan pernah berprasangka buruk bahwa kas itu akan masuk dalam kantong para pamong. Karena mereka adalah orang-orang pilihan yang tidak akan melakukan hal senista itu. Paling hanya beberapa ribu saja yang mereka gunakan untuk beli gula teh dan beberapa bungkus rokok. Bukankah mereka berhak atas itu?
Harga yang harus anda berikan adalah sesuai jumlah lembar yang dikeluarkan dan jumlah lingkaran stempel yang ditempelkan. Jangan sampai kurang, karena jika kurang itu berarti anda melakukan pelanggaran dan bisa dianggap sebagai tidak patuh pada Negara. Lebih jauh lagi adalah anda bisa dianggap hutang, karena jumlah stempel yang menempel adalah berfungsi juga sebagai bukti pembayaran.
Jika sudah sampai kecamatan, jangan pake bartanya berapa anda harus bayar. Anda harus tahu diri untuk mengeluarkan sejumlah uang. Mereka sudah bekerja begitu rajin dan mau menolong anda membuatkan KTP. Coba bayangkan jika mereka tidak ada, dari mana anda bisa mendapatkan KTP. Jika anda tidak punya KTP anda akan dianggap bukan warga Negara yang baik. Bisa juga digaruk satpol PP karena melanggar aturan kependudukan.
Jadi petugas yang membuatkan KTP adalah orang yang sangat berjasa. Sehingga sudah sewajarnya jika anda memberikan mereka penghargaan. Jangan pernah menghitung jumlahnya, karena semakin banyak anda memberi, berarti semakin anda disebut sebagai warga yang budiman, dan yang jelas mereka akan merasa sangat dihargai dan akan bekerja lebih cepat dari biasanya.
Jika anda tidak memberikan mereka penghargaan, jangan salahkan mereka akan ngambek. KTP anda bisa saja dua bulan tidak terproses. Data yang anda masukkan tidak akan pernah lengkap, kurang inilah, itulah, dan anda harus paling tidak bolak balik ke kecamatan sampai kaki anda lemas, dan waktu anda yang terbuang mestinya sudah cukup untuk mencari sejumlah uang yang sebaiknya anda berikan kepada mereka. Jadi ya ada baiknya anda menjadi orang yang dermawan.
Jika anda mengira bahwa KTP itu adalah hak anda, itu adalah kesalahan berfikir anda. Di jaman yang modern dan berorientasi pada jumlah materi, pikiran itu harus anda buang jauh-jauh. Membuat KTP adalah kewajiban anda, jika tidak punya anda bisa-bisa dideportasi, dan tidak bisa menikmati fasilitas-fasilitas yang dimudahkan oleh Negara, seperti raskin, askeskin, dan sebagainya.
Dan jika anda mengira para pegawai kecamatan itu abdi Negara yang berkewajiban melayani anda, itu adalah pemikiran yang sangat primitif. Pada masa sekarang ini, para pegawai itu berhak untuk menunda pekerjaan jika anda tidak memberinya penghargaan yang layak. Jangan pernah anda berfikir bahwa orang-orang menjadi pegawai bukan karena mempertimbangkan beban kewajibannya, namun karena limpahan hak yang melekat padanya, seperti gaji besar, bisa dapat uang tip, uang jasa, tunjangan ini dan itu, serta jaminan hari tua. Buang jauh-jauh pemikiran itu. Anda bisa dikenai pasal penghinaan dan pencemaran nama baik.
Hal ini penting anda ketahui, jangan sampai anda dilihat banyak orang dengan pandangan aneh sambil berbisik pada kawan dekatnya, “kok masih ada ya, orang seperti dia”.(bms.19)
Jika sampai kelurahan, anda harus membayar kas desa. Karena kas itu akan bermanfaat ketika sudah berkumpul cukup untuk melakukan kegiatan tingkat desa. Jangan pernah berprasangka buruk bahwa kas itu akan masuk dalam kantong para pamong. Karena mereka adalah orang-orang pilihan yang tidak akan melakukan hal senista itu. Paling hanya beberapa ribu saja yang mereka gunakan untuk beli gula teh dan beberapa bungkus rokok. Bukankah mereka berhak atas itu?
Harga yang harus anda berikan adalah sesuai jumlah lembar yang dikeluarkan dan jumlah lingkaran stempel yang ditempelkan. Jangan sampai kurang, karena jika kurang itu berarti anda melakukan pelanggaran dan bisa dianggap sebagai tidak patuh pada Negara. Lebih jauh lagi adalah anda bisa dianggap hutang, karena jumlah stempel yang menempel adalah berfungsi juga sebagai bukti pembayaran.
Jika sudah sampai kecamatan, jangan pake bartanya berapa anda harus bayar. Anda harus tahu diri untuk mengeluarkan sejumlah uang. Mereka sudah bekerja begitu rajin dan mau menolong anda membuatkan KTP. Coba bayangkan jika mereka tidak ada, dari mana anda bisa mendapatkan KTP. Jika anda tidak punya KTP anda akan dianggap bukan warga Negara yang baik. Bisa juga digaruk satpol PP karena melanggar aturan kependudukan.
Jadi petugas yang membuatkan KTP adalah orang yang sangat berjasa. Sehingga sudah sewajarnya jika anda memberikan mereka penghargaan. Jangan pernah menghitung jumlahnya, karena semakin banyak anda memberi, berarti semakin anda disebut sebagai warga yang budiman, dan yang jelas mereka akan merasa sangat dihargai dan akan bekerja lebih cepat dari biasanya.
Jika anda tidak memberikan mereka penghargaan, jangan salahkan mereka akan ngambek. KTP anda bisa saja dua bulan tidak terproses. Data yang anda masukkan tidak akan pernah lengkap, kurang inilah, itulah, dan anda harus paling tidak bolak balik ke kecamatan sampai kaki anda lemas, dan waktu anda yang terbuang mestinya sudah cukup untuk mencari sejumlah uang yang sebaiknya anda berikan kepada mereka. Jadi ya ada baiknya anda menjadi orang yang dermawan.
Jika anda mengira bahwa KTP itu adalah hak anda, itu adalah kesalahan berfikir anda. Di jaman yang modern dan berorientasi pada jumlah materi, pikiran itu harus anda buang jauh-jauh. Membuat KTP adalah kewajiban anda, jika tidak punya anda bisa-bisa dideportasi, dan tidak bisa menikmati fasilitas-fasilitas yang dimudahkan oleh Negara, seperti raskin, askeskin, dan sebagainya.
Dan jika anda mengira para pegawai kecamatan itu abdi Negara yang berkewajiban melayani anda, itu adalah pemikiran yang sangat primitif. Pada masa sekarang ini, para pegawai itu berhak untuk menunda pekerjaan jika anda tidak memberinya penghargaan yang layak. Jangan pernah anda berfikir bahwa orang-orang menjadi pegawai bukan karena mempertimbangkan beban kewajibannya, namun karena limpahan hak yang melekat padanya, seperti gaji besar, bisa dapat uang tip, uang jasa, tunjangan ini dan itu, serta jaminan hari tua. Buang jauh-jauh pemikiran itu. Anda bisa dikenai pasal penghinaan dan pencemaran nama baik.
Hal ini penting anda ketahui, jangan sampai anda dilihat banyak orang dengan pandangan aneh sambil berbisik pada kawan dekatnya, “kok masih ada ya, orang seperti dia”.(bms.19)

Kau minta aku menulis cinta
Aku tak tahu huruf apa yang pertama dan seterusnya
Kubolak-balik seluruh abjad
Kata-kata cacat yang kudapat
Jangan lagi minta aku menulis cinta
Huruf-hurufku, kau tahu,
bahkan tak cukup untuk namamu
Sebab cinta adalah kau, yang tak mampu kusebut
kecuali dengan denyut
RABUN HATI
Penyakit paling berbahaya pasti rabun hati karena bahayanya tidak cuma ada di dunia tetapi juga akan tembus ke akhirat. Kita memang menatap dengan rasa ngeri ancaman diabetes dan gagal ginjal. Tetapi ada banyak saudara, kerabat dan sahabat, yang kehilangan kaki karena penyakit ini malah menemukan hidupnya kembali. Ia memang kehilangan kaki, tetapi menemukan hati. Ada banyak pasien cuci darah yang akhirnya menemukan ilmu pasrah (ikhlas). Ini ilmu yang pasti tidak didapat dengan mudah karena malah harus melewati ginjal yang parah. Ada begitu banyak kerusakan tubuh yang malah membangun hati. Karena itulah penyakit tubuh, mestinya tidak boleh semenakutkan dibanding dengan penyakit hati.
Hati itu, tidak usah sakit, cukup rabun saja, dampak kerusakannya sudah luar biasa. Jika penderita itu bernama suami, ia akan memutilasi kebahagiaan keluarganya sendiri. Manajemen keluarga yang sederhana akan menjadi rumit. Soal keuangan saja lalu ada uang perempuan, uang laki-laki, uang gelap, uang terang, uang abu-abu dan uang siluman. Apakah keluarga membutuhkan itu semua? Tidak. Kebutuhan keluarga itu sederhana. Menjadi tidak sederhana ketika nilai-nilai keluarga itu tidak lagi menjadi sumber orientasi.
Begitulah pula dengan pendidikan. Induk persoalannya selalu sederahana. Pendidikan bertugas mengajar siswa. Itu saja mestinya. Tetapi ketika pendidikan dijejali bermacam-macam kepentingan, dunia pendidikan menjadi berjejal muatan dan tujuan utama itu lalu nyelip entah di mana.
Begitu pula dengan pembangunan. Tugas utamanya simpel saja sebetulnya. Ia memudahkan, melancarkan dan memartabatkan kehidupan. Tetapi ketika di tubuh pembangunan terdapat aneka benalu penyimpangan, banyak sekali pembangunan yang malah berarti perusakan. Ada gedung yang baru dibangun sudah rusak. Ada gedung lama yang cuma untuk mangkrak. Ada kekeliruan yang dizinkan, ada pelanggaran yang dibiarkan, ada bahaya yang disengaja, ada kebakaran yang direncanakan, ada jembatan yang sengaja dibiarkan kelebihan beban.
Begitu pula dengan tata kelola negara. Mengelola rakyat itu sederhana. Hanya membutuhkan dua kata saja: ketegasan hukum. Tidak ada rakyat yang tidak takut hukum. Kalau kemudian begitu banyak pelanggaran hukum, bukan berarti kita memiliki banyak pelanggar, melainkan karena ada begitu banyak hukum yang menantang untuk dilanggar.
Di dunia ini sebetulnya tidak ada urusan yang ruwet. Yang ada ialah persoalan yang dibiarkan, ditumpuk, diabaikan untuk kemudian ia beranak-pinak sedemikian rupa hingga tak bisa lagi dicegah kecuali harus berujung pada kerusakan. Dan seluruh kerusakan itu hanya butuh sebab sederhana: rabun hati, penyakit yang membuat indera peraba, perasa, pendengar, pencium, pengecap lenyap dan yang tertingal cuma indera kepentingannya sendiri. (Prie GS)
Hati itu, tidak usah sakit, cukup rabun saja, dampak kerusakannya sudah luar biasa. Jika penderita itu bernama suami, ia akan memutilasi kebahagiaan keluarganya sendiri. Manajemen keluarga yang sederhana akan menjadi rumit. Soal keuangan saja lalu ada uang perempuan, uang laki-laki, uang gelap, uang terang, uang abu-abu dan uang siluman. Apakah keluarga membutuhkan itu semua? Tidak. Kebutuhan keluarga itu sederhana. Menjadi tidak sederhana ketika nilai-nilai keluarga itu tidak lagi menjadi sumber orientasi.
Begitulah pula dengan pendidikan. Induk persoalannya selalu sederahana. Pendidikan bertugas mengajar siswa. Itu saja mestinya. Tetapi ketika pendidikan dijejali bermacam-macam kepentingan, dunia pendidikan menjadi berjejal muatan dan tujuan utama itu lalu nyelip entah di mana.
Begitu pula dengan pembangunan. Tugas utamanya simpel saja sebetulnya. Ia memudahkan, melancarkan dan memartabatkan kehidupan. Tetapi ketika di tubuh pembangunan terdapat aneka benalu penyimpangan, banyak sekali pembangunan yang malah berarti perusakan. Ada gedung yang baru dibangun sudah rusak. Ada gedung lama yang cuma untuk mangkrak. Ada kekeliruan yang dizinkan, ada pelanggaran yang dibiarkan, ada bahaya yang disengaja, ada kebakaran yang direncanakan, ada jembatan yang sengaja dibiarkan kelebihan beban.
Begitu pula dengan tata kelola negara. Mengelola rakyat itu sederhana. Hanya membutuhkan dua kata saja: ketegasan hukum. Tidak ada rakyat yang tidak takut hukum. Kalau kemudian begitu banyak pelanggaran hukum, bukan berarti kita memiliki banyak pelanggar, melainkan karena ada begitu banyak hukum yang menantang untuk dilanggar.
Di dunia ini sebetulnya tidak ada urusan yang ruwet. Yang ada ialah persoalan yang dibiarkan, ditumpuk, diabaikan untuk kemudian ia beranak-pinak sedemikian rupa hingga tak bisa lagi dicegah kecuali harus berujung pada kerusakan. Dan seluruh kerusakan itu hanya butuh sebab sederhana: rabun hati, penyakit yang membuat indera peraba, perasa, pendengar, pencium, pengecap lenyap dan yang tertingal cuma indera kepentingannya sendiri. (Prie GS)
Kamis, 04 November 2010
"MAIYAH CINTA SEGITIGA"
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh, kepada Jamaah Maiyah di seluruh jagat Allah SWT, dari Kadipiro Kamis 4 November 2010.
1. "Salah sawijine sopo biso anglakoni, insyaAllah Gusti Pengeran ngijabahi" "Melakukan salah satu, baik. Melakukan sebagian, ahsan. Melakukan semua, afdhal".
2. Mulai hari-hari ini, ingat-ingat kembali, gali, perdalam, diskusikan, ijtihadi bersama Ilmu Dasar Maiyah CINTA SEGI TIGA, Tafsir Maiyah tentang Syafaat Rasulullah Muhammad SAW.
3. Sempatkan berkumpul, kalau tidak- sering-sering, masing-masing bertafakkur: Membaca doa Rasulullah Muhammad SAW di tengah bahaya besar:
"Allahummahrusnaa bi 'ainikallati laa tanaam, waknufnaa bi kanafikallati laa yuraam, warhamnaa bi qudratika 'alaina, falaa nahliku wa Anta rajaa'una Laa Ilaaha Illallahul 'adziimul haliim Laa Ilaaha Illallahu robbil 'Arsyil 'Adziim Walhamdulillahi Rabbil 'Alamiin"
Allahumma ya Allah jagalah kami dengan mripatMu yg tdk pernah tidur. Peluklah (lindungilah) kami dlm pelukanMu yg tak terlepaskan. Kasihilah kami dengan kuasaMu atas kami, maka kami tidak akan binasa karena Engkaulah semata harapan kami. Tiada tuhan selain Allah Yang Maha Agung dan Maha Sabar. Tiada tuhan selain Allah, Penguasa arasy yang Agung. Segala puji milik Allah Tuhan semesta alam
4. Membaca kembali, memahami dan meyakini makna Al-Anfal 33.
5. Ber-IJTIHAD menyelami Al-Hasyr 18 s/d 24.
6. Ber-MUJAHADAH dengan mewiridkan AlHasyr 20.
7. Mohon ikhlas sempatkan setiap atau sekali saja Malam Jum'at melakukan Shalatullail, kemudian membaca urut surah Al-Ikhlas AlFalaq AnNas.
Berapa kalipun sekuatnya, syukur sekurang-sekurangnya 31X
Kapan luang dan ikhlas wiridkan:
"Ya Mannana Ya Karim Ya 'Adla Ya Hakim Ya Rohmana Ya Rohim Ya Hafiidha ya Halim"
Berapa kalipun sekuatnya, syukur sekurang-kurangnya 100X.
9. Jika muncul rasa takut, cemas, gelisah, wiridkan kalimat Rasulullah Muhammad SAW di saat genting:
"In lam takun 'alayya ghodhobun fala ubali"
Semoga Allah swt mengayomi hamba-hambaNya yang tidak ikut merusak kehidupan, serta mengampuni siapapun yg bertobat, yang mengerti dan mengakui dosa2nya.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh.
Muhammad Ainun Nadjib
1. "Salah sawijine sopo biso anglakoni, insyaAllah Gusti Pengeran ngijabahi" "Melakukan salah satu, baik. Melakukan sebagian, ahsan. Melakukan semua, afdhal".
2. Mulai hari-hari ini, ingat-ingat kembali, gali, perdalam, diskusikan, ijtihadi bersama Ilmu Dasar Maiyah CINTA SEGI TIGA, Tafsir Maiyah tentang Syafaat Rasulullah Muhammad SAW.
3. Sempatkan berkumpul, kalau tidak- sering-sering, masing-masing bertafakkur: Membaca doa Rasulullah Muhammad SAW di tengah bahaya besar:
"Allahummahrusnaa bi 'ainikallati laa tanaam, waknufnaa bi kanafikallati laa yuraam, warhamnaa bi qudratika 'alaina, falaa nahliku wa Anta rajaa'una Laa Ilaaha Illallahul 'adziimul haliim Laa Ilaaha Illallahu robbil 'Arsyil 'Adziim Walhamdulillahi Rabbil 'Alamiin"
Allahumma ya Allah jagalah kami dengan mripatMu yg tdk pernah tidur. Peluklah (lindungilah) kami dlm pelukanMu yg tak terlepaskan. Kasihilah kami dengan kuasaMu atas kami, maka kami tidak akan binasa karena Engkaulah semata harapan kami. Tiada tuhan selain Allah Yang Maha Agung dan Maha Sabar. Tiada tuhan selain Allah, Penguasa arasy yang Agung. Segala puji milik Allah Tuhan semesta alam
4. Membaca kembali, memahami dan meyakini makna Al-Anfal 33.
5. Ber-IJTIHAD menyelami Al-Hasyr 18 s/d 24.
6. Ber-MUJAHADAH dengan mewiridkan AlHasyr 20.
7. Mohon ikhlas sempatkan setiap atau sekali saja Malam Jum'at melakukan Shalatullail, kemudian membaca urut surah Al-Ikhlas AlFalaq AnNas.
Berapa kalipun sekuatnya, syukur sekurang-sekurangnya 31X
Kapan luang dan ikhlas wiridkan:
"Ya Mannana Ya Karim Ya 'Adla Ya Hakim Ya Rohmana Ya Rohim Ya Hafiidha ya Halim"
Berapa kalipun sekuatnya, syukur sekurang-kurangnya 100X.
9. Jika muncul rasa takut, cemas, gelisah, wiridkan kalimat Rasulullah Muhammad SAW di saat genting:
"In lam takun 'alayya ghodhobun fala ubali"
Semoga Allah swt mengayomi hamba-hambaNya yang tidak ikut merusak kehidupan, serta mengampuni siapapun yg bertobat, yang mengerti dan mengakui dosa2nya.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh.
Muhammad Ainun Nadjib
Kamis, 23 September 2010
Jika . . .

Jika kamu memancing ikan.....Setelah ikan itu terikat di mata kail, hendaklah kamu mengambil ikan itu.....
Janganlah sesekali kamu lepaskan ia semula ke dalam air begitu saja.... Karena ia akan sakit oleh karena bisanya ketajaman mata kailmu dan mungkin ia akan menderita selagi ia masih hidup.
Begitulah juga setelah kamu memberi banyak pengharapan kepada seseorang.... Setelah ia mulai menyayangimu hendaklah kamu menjaga hatinya.....
Janganlah sesekali kamu meninggalkannya begitu saja......
Karena ia akan terluka oleh kenangan bersamamu dan mungkin tidak dapat melupakan segalanya selagi dia mengingat.....
Jika kamu menadah air biarlah berpada, jangan terlalu mengharap pada takungannya dan janganlah menganggap ia begitu teguh......cukuplah sekadar keperluanmu.......
Apabila sekali ia retak......tentu sukar untuk kamu menambalnya semula......
Akhirnya ia dibuang......
Sedangkan jika kamu coba memperbaikinya mungkin ia masih dapat dipergunakan lagi.....
Begitu juga jika kamumemiliki seseorang, terimalah seadanya.....
Janganlah kamu terlalu mengaguminya dan janganlah kamu menganggapnya begitu istimewa.....
Anggaplah ia manusia biasa.
Apabila sekali ia melakukan kesilapan bukan mudah bagi kamu untuk menerimanya.....akhirnya kamu kecewa dan meninggalkannya.
Sedangkan jika kamu memaafkannya boleh jadi hubungan kamu akan terus hingga ke akhirnya.....
Jika kamu telah memiliki sepinggan nasi.....yang pasti baik untuk dirimu. Mengenyangkan. Berkhasiat.
Mengapa kamu berlengah, coba mencari makanan yang lain....
Terlalu ingin mengejar kelezatan.
Kelak, nasi itu akan basi dan kamu tidak boleh memakannya.
kamu akan menyesal.
Begitu juga jika kamu telah bertemu dengan seorang insan....yang membawa kebaikan kepada dirimu.
Menyayangimu. Mengasihimu.
Mengapa kamu berlengah, coba bandingkannya dengan yang lain. Terlalu mengejar kesempurnaan.
Kelak, kamu akan kehilangannya; apabila dia menjadi milik orang lain kamu juga akan menyesal...
Minggu, 08 Agustus 2010
Nasehat Ramadhan buat Musthofa Bisri
Oleh: KH.Musthofa Bisri
Musthafa, jujurlah pada dirimu sendiri mengapa kau selalu mengatakan Ramadhan bulan ampunan.
Apakah hanya menirukan Nabi atau dosa-dosamu dan harapanmu yang berlebihanlah yang menggerakkan lidahmu begitu.
Musthafa, Ramadhan adalah bulan antara dirimu dan Tuhanmu.
Darimu hanya untukNya. Dan Ia sendiri tak ada yang tau apa yang akan dianugerahkanNya kepadamu.
Semua yang khusus untukNya, khusus untukmu.
Musthafa, Ramadhan adalah bulanNya yang Ia serahkan padamu, dan bulanmu serahkanlah semata-mata padaNya.
Bersucilah untukNya, bershalatlah untukNya, berpuasalah untukNya, berjuanglah melawan dirimu sendiri untukNya.
Sucikan kelaminmu berpuasalah,
Sucikan tanganmu berpuasalah
Sucikan mulutmu berpuasalah
Sucikan hidungmu berpuasalah
Sucikan wajahmu berpuasalah
Sucikan matamu berpuasalah
Sucikan telingamu berpuasalah
Sucikan rambutmu berpuasalah
Sucikan kepalamu berpuasalah
Sucikan kakimu berpuasalah
Sucikan tubuhmu berpuasalah
Sucikan hatimu, sucikan pikiranmu berpuasalah
Sucikan dirimu….
Musthafa, bukan perut yang lapar, bukan tenggorokan yang kering yang mengingatkan kedhaifan, dan melembutkan rasa.
Perut yang kosong dan ternggorokan yang kering ternyata hanya penunggu atau perebut kesempatan yang tak sabar atau terpaksa.
Barangkali lebih sabar sedikit dari mata, tangan, kaki, dan kelamin. Lebih tahan sedikit berpuasa. Tapi hanya kau yang tau, hasrat dikekang untuk apa? Dan untuk siapa?
Puasakan kelaminmu untuk memuasi ridha,
Puasakan tanganmu untuk menerima kurnia
Puasakan mulutmu untuk merasai firman
Puasakan hidungmu untuk menghirup wangi
Puasakan wajahmu untuk menghadap keelokan
Puasakan matamu untuk menatap cahya
Puasakan telingamu untuk menangkap merdu
Puasakan rambutmu untuk menyerap belai
Puasakan kepalamu untuk menekan sujud
Puasakan kakimu untuk menapak shirath
Puasakan tubuhmu untuk meresapi rahmat
Puasakan hatimu untuk menikmati hakikat
Puasakan pikiranmu untuk meyakini kebenaran
Puasakan dirimu untuk menghayati hidup
Tidak…Puasakan hasratmu hanya untuk hadhiratNya.
Musthafa, Ramadhan bulan suci katamu
Kau menirukan ucapan Nabi atau kau telah merasakan sendiri kesuciannya melalui kesucianmu
Tapi bukanlah kau masih selalu menunda-nunda menyingkirkan kedengkian, keserakahan, ujub, riya, takabur, dan sampah-sampah lainnya yang mampat dari comberan hatimu.
Musthafa, inilah bulan baik saat baik untuk kerjabakti membersihkan hati
Inilah bulan baik saat baik untuk merobohkan berhala dirimu yang secara terang-terangan dan
sembunyi-sembunyi kau puja selama ini.
Atau akan kau lewatkan lagi kesempatan ini seperti ramadhann-ramadhan yang lalu?
Musthafa, jujurlah pada dirimu sendiri mengapa kau selalu mengatakan Ramadhan bulan ampunan.
Apakah hanya menirukan Nabi atau dosa-dosamu dan harapanmu yang berlebihanlah yang menggerakkan lidahmu begitu.
Musthafa, Ramadhan adalah bulan antara dirimu dan Tuhanmu.
Darimu hanya untukNya. Dan Ia sendiri tak ada yang tau apa yang akan dianugerahkanNya kepadamu.
Semua yang khusus untukNya, khusus untukmu.
Musthafa, Ramadhan adalah bulanNya yang Ia serahkan padamu, dan bulanmu serahkanlah semata-mata padaNya.
Bersucilah untukNya, bershalatlah untukNya, berpuasalah untukNya, berjuanglah melawan dirimu sendiri untukNya.
Sucikan kelaminmu berpuasalah,
Sucikan tanganmu berpuasalah
Sucikan mulutmu berpuasalah
Sucikan hidungmu berpuasalah
Sucikan wajahmu berpuasalah
Sucikan matamu berpuasalah
Sucikan telingamu berpuasalah
Sucikan rambutmu berpuasalah
Sucikan kepalamu berpuasalah
Sucikan kakimu berpuasalah
Sucikan tubuhmu berpuasalah
Sucikan hatimu, sucikan pikiranmu berpuasalah
Sucikan dirimu….
Musthafa, bukan perut yang lapar, bukan tenggorokan yang kering yang mengingatkan kedhaifan, dan melembutkan rasa.
Perut yang kosong dan ternggorokan yang kering ternyata hanya penunggu atau perebut kesempatan yang tak sabar atau terpaksa.
Barangkali lebih sabar sedikit dari mata, tangan, kaki, dan kelamin. Lebih tahan sedikit berpuasa. Tapi hanya kau yang tau, hasrat dikekang untuk apa? Dan untuk siapa?
Puasakan kelaminmu untuk memuasi ridha,
Puasakan tanganmu untuk menerima kurnia
Puasakan mulutmu untuk merasai firman
Puasakan hidungmu untuk menghirup wangi
Puasakan wajahmu untuk menghadap keelokan
Puasakan matamu untuk menatap cahya
Puasakan telingamu untuk menangkap merdu
Puasakan rambutmu untuk menyerap belai
Puasakan kepalamu untuk menekan sujud
Puasakan kakimu untuk menapak shirath
Puasakan tubuhmu untuk meresapi rahmat
Puasakan hatimu untuk menikmati hakikat
Puasakan pikiranmu untuk meyakini kebenaran
Puasakan dirimu untuk menghayati hidup
Tidak…Puasakan hasratmu hanya untuk hadhiratNya.
Musthafa, Ramadhan bulan suci katamu
Kau menirukan ucapan Nabi atau kau telah merasakan sendiri kesuciannya melalui kesucianmu
Tapi bukanlah kau masih selalu menunda-nunda menyingkirkan kedengkian, keserakahan, ujub, riya, takabur, dan sampah-sampah lainnya yang mampat dari comberan hatimu.
Musthafa, inilah bulan baik saat baik untuk kerjabakti membersihkan hati
Inilah bulan baik saat baik untuk merobohkan berhala dirimu yang secara terang-terangan dan
sembunyi-sembunyi kau puja selama ini.
Atau akan kau lewatkan lagi kesempatan ini seperti ramadhann-ramadhan yang lalu?
Tadarus
Oleh : Gus Mus
Bismillahirrahmanirrahim
Brenti mengalir darahku menyimak firman-Mu
Idzaa zulzilatil-ardlu zilzaalahaa
Wa akhrajatil-ardlu atsqaalahaa
Waqaalal-insaanu maa lahaa
(ketika bumi diguncang dengan dasyatnya
Dan bumi memuntahkan isi perutnya
Dan manusia bertanya-tanya:
Bumi itu kenapa?)
Yaumaidzin tuhadditsu akhbaarahaa
Bianna Rabbaka auhaa lahaa
Yaumaidzin yashdurun-naasu asytaatan
Liyurau a'maalahum
(Ketika itu bumi mengisahkan kisah-kisahnya
Karena Tuhanmu mengilhaminya
Ketika itu manusia tumpah terpisah-pisah
'Tuk diperlihatkan perbuatan-perbuatan mereka)
Faman ya'mal mitsqaala dzarratin khairan yarah
Waman ya'mal mitsqaala dzarratin syarran yarah
(Maka siapa yang berbuat sezarrah kebaikan
pun akan melihatnya
Dan siapa yang berbuat sezarrah kejahatan
pun akan melihatnya)
Ya Tuhan, akukah insan yang bertanya-tanya
Ataukah aku mukmin yang sudah tahu jawabnya?
Kulihat tetes diriku dalam muntahan isi bumi
Aduhai, akan kemanakah kiranya bergulir?
Diantara tumpukan maksiat yang kutimbun saat demi saat
Akankah kulihat sezarrah saja
Kebaikan yang pernah kubuat?
Nafasku memburu diburu firmanMu
Dengan asma Allah Yang Pengasih Penyayang
Wa'aadiyaati dlabhan
Falmuuriyaati qadhan
Fa-atsarna bihi naq'an
Fawasathna bihi jam'an
(Demi yang sama terpacu berdengkusan
Yang sama mencetuskan api berdenyaran
Yang pagi-pagi melancarkan serbuan
Menerbangkan debu berhamburan
Dan menembusnya ke tengah-tengah pasukan lawan)
Innal-insana liRabbihi lakanuud
Wainnahu 'alaa dzaalika lasyahied
Wainnahu lihubbil-khairi lasyadied
(Sungguh manusia itu kepada Tuhannya
Sangat tidak tahu berterima kasih
Sunggung manusia itu sendiri tentang itu menjadi saksi
Dan sungguh manusia itu sayangnya kepada harta
Luar biasa)
Afalaa ya'lamu idza bu'tsira maa fil-qubur
Wahushshila maa fis-shuduur
Inna Rabbahum bihim yaumaidzin lakhabier
(Tidakkah manusia itu tahu saat isi kubur dihamburkan
Saat ini dada ditumpahkan?
Sungguh Tuhan mereka
Terhadap mereka saat itu tahu belaka!)
Ya Tuhan, kemana gerangan butir debu ini 'kan menghambur?
Adakah secercah syukur menempel
Ketika isi dada dimuntahkan
Ketika semua kesayangan dan andalan entah kemana?
Meremang bulu romaku diguncang firmanMu
Bismillahirrahmaanirrahim
Al-Quaari'atu
Mal-qaari'ah
Wamaa adraaka mal-qaari'ah
(Penggetar hati
Apakah penggetar hati itu?
Tahu kau apa itu penggetar hati?)
Resah sukmaku dirasuk firmanMu
Yauma yakuunun-naasu kal-faraasyil-mabtsuts
Watakuunul-jibaalu kal'ihnil-manfusy
(Itulah hari manusia bagaikan belalang bertebaran
dan gunung-gunung bagaikan bulu dihambur-terbangkan)
Menggigil ruas-ruas tulangku dalam firmanMu
Waammaa man tsaqulat mawaazienuhu
Fahuwa fii 'iesyatir-raadliyah
Waammaa man khaffat mawaazienuhu faummuhu haawiyah
Wamaa adraaka maa hiyah
Naarun haamiyah
(Nah barangsiapa berbobot timbangan amalnya
Ia akan berada dalam kehidupan memuaskan
Dan barangsiapa enteng timbangan amalnya
Tempat tinggalnya di Hawiyah
Tahu kau apa itu?
Api yang sangat panas membakar!)
Ya Tuhan kemanakah gerangan belalang malang ini 'kan terkapar?
Gunung amal yang dibanggakan
Jadikah selembar bulu saja memberati timbangan
Atau gunung-gunung dosa akan melumatnya
Bagi persembahan lidah Hawiyah?
Ataukah, o, kalau saja maharahmatMu
Akan menerbangkannya ke lautan ampunan
Shadaqallahul' Adhiem
Telah selesai ayat-ayat dibaca
Telah sirna gema-gema sari tilawahnya
Marilah kita ikuti acara selanjutnya
Masih banyak urusan dunia yang belum selesai
Masih banyak kepentingan yang belum tercapai
Masih banyak keinginan yang belum tergapai
Marilah kembali berlupa
Insya Allah Kiamat masih lama. Amien.
1963+1988
(dari Antologi Puisi A. Mustofa Bisri "Tadarus", Prima Pustaka Yogyakarta,
1993)
Bismillahirrahmanirrahim
Brenti mengalir darahku menyimak firman-Mu
Idzaa zulzilatil-ardlu zilzaalahaa
Wa akhrajatil-ardlu atsqaalahaa
Waqaalal-insaanu maa lahaa
(ketika bumi diguncang dengan dasyatnya
Dan bumi memuntahkan isi perutnya
Dan manusia bertanya-tanya:
Bumi itu kenapa?)
Yaumaidzin tuhadditsu akhbaarahaa
Bianna Rabbaka auhaa lahaa
Yaumaidzin yashdurun-naasu asytaatan
Liyurau a'maalahum
(Ketika itu bumi mengisahkan kisah-kisahnya
Karena Tuhanmu mengilhaminya
Ketika itu manusia tumpah terpisah-pisah
'Tuk diperlihatkan perbuatan-perbuatan mereka)
Faman ya'mal mitsqaala dzarratin khairan yarah
Waman ya'mal mitsqaala dzarratin syarran yarah
(Maka siapa yang berbuat sezarrah kebaikan
pun akan melihatnya
Dan siapa yang berbuat sezarrah kejahatan
pun akan melihatnya)
Ya Tuhan, akukah insan yang bertanya-tanya
Ataukah aku mukmin yang sudah tahu jawabnya?
Kulihat tetes diriku dalam muntahan isi bumi
Aduhai, akan kemanakah kiranya bergulir?
Diantara tumpukan maksiat yang kutimbun saat demi saat
Akankah kulihat sezarrah saja
Kebaikan yang pernah kubuat?
Nafasku memburu diburu firmanMu
Dengan asma Allah Yang Pengasih Penyayang
Wa'aadiyaati dlabhan
Falmuuriyaati qadhan
Fa-atsarna bihi naq'an
Fawasathna bihi jam'an
(Demi yang sama terpacu berdengkusan
Yang sama mencetuskan api berdenyaran
Yang pagi-pagi melancarkan serbuan
Menerbangkan debu berhamburan
Dan menembusnya ke tengah-tengah pasukan lawan)
Innal-insana liRabbihi lakanuud
Wainnahu 'alaa dzaalika lasyahied
Wainnahu lihubbil-khairi lasyadied
(Sungguh manusia itu kepada Tuhannya
Sangat tidak tahu berterima kasih
Sunggung manusia itu sendiri tentang itu menjadi saksi
Dan sungguh manusia itu sayangnya kepada harta
Luar biasa)
Afalaa ya'lamu idza bu'tsira maa fil-qubur
Wahushshila maa fis-shuduur
Inna Rabbahum bihim yaumaidzin lakhabier
(Tidakkah manusia itu tahu saat isi kubur dihamburkan
Saat ini dada ditumpahkan?
Sungguh Tuhan mereka
Terhadap mereka saat itu tahu belaka!)
Ya Tuhan, kemana gerangan butir debu ini 'kan menghambur?
Adakah secercah syukur menempel
Ketika isi dada dimuntahkan
Ketika semua kesayangan dan andalan entah kemana?
Meremang bulu romaku diguncang firmanMu
Bismillahirrahmaanirrahim
Al-Quaari'atu
Mal-qaari'ah
Wamaa adraaka mal-qaari'ah
(Penggetar hati
Apakah penggetar hati itu?
Tahu kau apa itu penggetar hati?)
Resah sukmaku dirasuk firmanMu
Yauma yakuunun-naasu kal-faraasyil-mabtsuts
Watakuunul-jibaalu kal'ihnil-manfusy
(Itulah hari manusia bagaikan belalang bertebaran
dan gunung-gunung bagaikan bulu dihambur-terbangkan)
Menggigil ruas-ruas tulangku dalam firmanMu
Waammaa man tsaqulat mawaazienuhu
Fahuwa fii 'iesyatir-raadliyah
Waammaa man khaffat mawaazienuhu faummuhu haawiyah
Wamaa adraaka maa hiyah
Naarun haamiyah
(Nah barangsiapa berbobot timbangan amalnya
Ia akan berada dalam kehidupan memuaskan
Dan barangsiapa enteng timbangan amalnya
Tempat tinggalnya di Hawiyah
Tahu kau apa itu?
Api yang sangat panas membakar!)
Ya Tuhan kemanakah gerangan belalang malang ini 'kan terkapar?
Gunung amal yang dibanggakan
Jadikah selembar bulu saja memberati timbangan
Atau gunung-gunung dosa akan melumatnya
Bagi persembahan lidah Hawiyah?
Ataukah, o, kalau saja maharahmatMu
Akan menerbangkannya ke lautan ampunan
Shadaqallahul' Adhiem
Telah selesai ayat-ayat dibaca
Telah sirna gema-gema sari tilawahnya
Marilah kita ikuti acara selanjutnya
Masih banyak urusan dunia yang belum selesai
Masih banyak kepentingan yang belum tercapai
Masih banyak keinginan yang belum tergapai
Marilah kembali berlupa
Insya Allah Kiamat masih lama. Amien.
1963+1988
(dari Antologi Puisi A. Mustofa Bisri "Tadarus", Prima Pustaka Yogyakarta,
1993)
Kamis, 05 Agustus 2010
Puing Cinta
oleh : Kiai Budi
Sedulurku tercinta,sepulang pengajian tadi malam,di ruang khalwatku berdiri sosok sedang tahajjud,lama dia wiridan sampai menjelang Subuh,aku tunggu sampai selesai sembahyang.Namanya Priono,asli Semarang,umurnya 45 tahun,masih lajang,ahli pijat,terusir dari sebuah lembaga sosial yang berlabel agama,kini ia berada di depanku,subhanallah: dia cacat mata,tetapi tidak matahatinya.Lembaga agama ini telah direkamnya sedemikian rupa dengan kejujuran nuraninya: dalam kajian agama (islam) nampak semua dilarang--misalnya--Yasinan,Tahlilan,Nariyahan,Puji-pujian sebelum sembahyang.Yasin benar tetapi Yasinan salah,Tahlil benar tetapi tahlilan salah dan seterusnya--katanya.Kalau shalat mereka pakai celana komprang,tanpa peci.Menurut kisahnya: selalu mencari kesalahan orang sesama muslim.Atas kehadirannya di Rumah Cinta ini,setelah terusir dari lembaga itu,karena dia melakukan hal-hal yang menurut mereka salah itu,bid'ah itu,khurafat itu,tahayul itu.Pengusiran kepadanya itu bagian dari shok terapi--kata mereka.Ternyata sedulur kita yang buta ini,dengan segala bawaannya yang sedemikian banyak itu,pergi meninggalkan lembaga sosial yang berlabel agama ini,entah ke mana,dan sampai di depan mataku ini.Aku sambut dia dengan suka cita,aku nyatakan dia adalah saudaraku,kita sesama makhluk Sang Pencipta yang Esa,kita adalah sama,dicipta dari tanah yang sama.Sekarang dia menjadi temanku,teman dalam jalan kehidupanku yang bisa membantu dalam memahami kebenaran yang tersembunyi,aku pandang dia tidak cacat--walau buta--dan dia aku pandang manusia seutuhnya,aku nyatakan: aku sayang padanya.Dia tersenyum gembira--sekarang--dia baru sarapan pagi seadanya di sisiku.Bahkan aku bilang,mintalah apa saja dariku,kau adalah saudaraku,aku menyayangimu,bahkan aku menyayangi orang yang bersimpuh di kuil,aku menyayangi orang yang berdo'a di gereja,kita adalah anak-anak dari Satu Keyakinan,Sang Khalik,siapa pun berada dalam jemari Ilahi,dituntun jalan ke arah kesempurnaan Ruhani.Aku menyayangimu Kang Priono,abadi bersama kekekalan cinta dan keindahannya,aku menyayangimu sebab telah kisaksikan dirimu remuk dan begitu rentan di depan penjajah yang keji,sedemikian melarat serta miskin,terusir di hadapan ketamakan,aku menangis demi kepentinganmu,dan dibalik air mataku aku mencoba menatap : kau ditemani Dia,aku aku mendekatimu dalam usahaku mendekati Dia.Kau adalah--aku temukan--seorang pengelana mencari sesuap nasi dan perlindungan di sahara kehidupan ini,tetapi mereka tidak menerimamu,bagaimana aku bisa bersenang-senang dibalik deritamu ini.Kau begitu mandiri: dengan tongkat di tangamu,kau telusuri kegelapan untuk berwudhu,mandi,sembahyang maka jadilah kau tidak buta,cahaya di mata hatimu terang benderang.Atas kehadiranmu,mengingatkan aku pada Kanjeng Nabi yang terusir oleh orang-orang itu,aku ingat akan tersalibnya Juru Selamat itu,aku ingat akan Socrates yang diberi racun untuk meminumnya.Ternyata Kanjeng Nabi tidak bisa dibunuh,sebab beliau hidup dalam keabadian Cinta,Socrate tidak bisa dihancurkan di Athena,sebab bilau hidup dengan keabadian kebenaran,cela dan hina tiada dapat menang melawan siapa pun yang menuruti jiwa kemanusiaan,dan mengikuti jejak-jejak para malaikat,mereka akan terus hidup dan berkembang tumbuh selamanya.Aku pun berucap kepada Kang Priono ini: sesungguhnya rumah yang menolak memberi sepotong roti atau seteguk air atau sepiring nasi,sesungguhnya rumah yang menolak untuk sebuah amben(ranjang) pada mereka yang memerlukan,sangatlah layak untuk disebut puing-puing reruntuhan dan rumah terbengkelai.Aku sayang kamu Kang Priono,aku sayang kamu,aku sayang kamu,aku sayang kamu,aku sayang kamu,aku sayang kamu,aku sayang kamu,aku sayang kamu,aku sayang kamu......Kawan2,kini aku lihat dia tersenyum,surga menyalakan kembali lentera dengan keharuman semerbak,aku minta dia damai di rumah ini sebagai mana harapannya,karena telah ditelusuri kegelaqpan ini tiada yang mau menampungnya,malah mengusirnya,aku melakukan ini sebab dia bukan orang lain dalan ranah keTauhidan hidupku,dan kini dia mau shalat dhuha dengan langkah tongkat di tangannya,sementara aku memandang dengan derai air mata......Selamat datang saudaraku di rumah Cinta ini.aku sayang kamu...
Sedulurku tercinta,sepulang pengajian tadi malam,di ruang khalwatku berdiri sosok sedang tahajjud,lama dia wiridan sampai menjelang Subuh,aku tunggu sampai selesai sembahyang.Namanya Priono,asli Semarang,umurnya 45 tahun,masih lajang,ahli pijat,terusir dari sebuah lembaga sosial yang berlabel agama,kini ia berada di depanku,subhanallah: dia cacat mata,tetapi tidak matahatinya.Lembaga agama ini telah direkamnya sedemikian rupa dengan kejujuran nuraninya: dalam kajian agama (islam) nampak semua dilarang--misalnya--Yasinan,Tahlilan,Nariyahan,Puji-pujian sebelum sembahyang.Yasin benar tetapi Yasinan salah,Tahlil benar tetapi tahlilan salah dan seterusnya--katanya.Kalau shalat mereka pakai celana komprang,tanpa peci.Menurut kisahnya: selalu mencari kesalahan orang sesama muslim.Atas kehadirannya di Rumah Cinta ini,setelah terusir dari lembaga itu,karena dia melakukan hal-hal yang menurut mereka salah itu,bid'ah itu,khurafat itu,tahayul itu.Pengusiran kepadanya itu bagian dari shok terapi--kata mereka.Ternyata sedulur kita yang buta ini,dengan segala bawaannya yang sedemikian banyak itu,pergi meninggalkan lembaga sosial yang berlabel agama ini,entah ke mana,dan sampai di depan mataku ini.Aku sambut dia dengan suka cita,aku nyatakan dia adalah saudaraku,kita sesama makhluk Sang Pencipta yang Esa,kita adalah sama,dicipta dari tanah yang sama.Sekarang dia menjadi temanku,teman dalam jalan kehidupanku yang bisa membantu dalam memahami kebenaran yang tersembunyi,aku pandang dia tidak cacat--walau buta--dan dia aku pandang manusia seutuhnya,aku nyatakan: aku sayang padanya.Dia tersenyum gembira--sekarang--dia baru sarapan pagi seadanya di sisiku.Bahkan aku bilang,mintalah apa saja dariku,kau adalah saudaraku,aku menyayangimu,bahkan aku menyayangi orang yang bersimpuh di kuil,aku menyayangi orang yang berdo'a di gereja,kita adalah anak-anak dari Satu Keyakinan,Sang Khalik,siapa pun berada dalam jemari Ilahi,dituntun jalan ke arah kesempurnaan Ruhani.Aku menyayangimu Kang Priono,abadi bersama kekekalan cinta dan keindahannya,aku menyayangimu sebab telah kisaksikan dirimu remuk dan begitu rentan di depan penjajah yang keji,sedemikian melarat serta miskin,terusir di hadapan ketamakan,aku menangis demi kepentinganmu,dan dibalik air mataku aku mencoba menatap : kau ditemani Dia,aku aku mendekatimu dalam usahaku mendekati Dia.Kau adalah--aku temukan--seorang pengelana mencari sesuap nasi dan perlindungan di sahara kehidupan ini,tetapi mereka tidak menerimamu,bagaimana aku bisa bersenang-senang dibalik deritamu ini.Kau begitu mandiri: dengan tongkat di tangamu,kau telusuri kegelapan untuk berwudhu,mandi,sembahyang maka jadilah kau tidak buta,cahaya di mata hatimu terang benderang.Atas kehadiranmu,mengingatkan aku pada Kanjeng Nabi yang terusir oleh orang-orang itu,aku ingat akan tersalibnya Juru Selamat itu,aku ingat akan Socrates yang diberi racun untuk meminumnya.Ternyata Kanjeng Nabi tidak bisa dibunuh,sebab beliau hidup dalam keabadian Cinta,Socrate tidak bisa dihancurkan di Athena,sebab bilau hidup dengan keabadian kebenaran,cela dan hina tiada dapat menang melawan siapa pun yang menuruti jiwa kemanusiaan,dan mengikuti jejak-jejak para malaikat,mereka akan terus hidup dan berkembang tumbuh selamanya.Aku pun berucap kepada Kang Priono ini: sesungguhnya rumah yang menolak memberi sepotong roti atau seteguk air atau sepiring nasi,sesungguhnya rumah yang menolak untuk sebuah amben(ranjang) pada mereka yang memerlukan,sangatlah layak untuk disebut puing-puing reruntuhan dan rumah terbengkelai.Aku sayang kamu Kang Priono,aku sayang kamu,aku sayang kamu,aku sayang kamu,aku sayang kamu,aku sayang kamu,aku sayang kamu,aku sayang kamu,aku sayang kamu......Kawan2,kini aku lihat dia tersenyum,surga menyalakan kembali lentera dengan keharuman semerbak,aku minta dia damai di rumah ini sebagai mana harapannya,karena telah ditelusuri kegelaqpan ini tiada yang mau menampungnya,malah mengusirnya,aku melakukan ini sebab dia bukan orang lain dalan ranah keTauhidan hidupku,dan kini dia mau shalat dhuha dengan langkah tongkat di tangannya,sementara aku memandang dengan derai air mata......Selamat datang saudaraku di rumah Cinta ini.aku sayang kamu...
Sabtu, 19 Juni 2010
NU dan Garasinya
Oleh: Dr. KH A. Mustofa Bisri
Keluarga Pak Nuas Waja merupakan keluarga desa yang cukup kaya. Di samping rumah yang besar, keluarga ini memiliki sawah, kebun, peternakan, perahu penangkap ikan, toko serba ada, dan masih ada kekayaan dan usaha yang lain. Keluarga Pak Nuas Waja yang cukup banyak, tidak kesulitan menangani semua harta dan usaha itu, meski pengelolaannya masih secara tradisional. Masing-masing anggota keluarga, sesuai keahliannya diserahi dan bertanggungjawab atas bidang yang dikuasainya. Ini menggarap sawah; ini mengurus kebun; itu menangani toko; itu mengurus peternakan; demikian seterusnya.
Masih ada satu usaha keluarga lagi yang dilakukan bekerja sama dengan pihak-pihak lain. Yaitu, usaha transportasi. Tapi, karena waktu pembagian keuntungan, dirasa kurang adil, akhirnya keluar dan mendirikan usaha transportasi sendiri. Berhubung usaha ini baru bagi mereka, maka diajaknya beberapa personil dari luar yang dianggap mampu dan mengerti seluk-beluk transportasi. Ternyata, usaha baru ini meraih sukses yang luar biasa. Dari empat besar perusahaan transportasi, perusahaan keluarga pak Nuas Waja yang baru ini meraih peringkat ketiga. Dampak dari sukses besar ini, antara lain: personil-personil dari luar yang ikut membantu–atau yang berjanji akan membantu--menangani usaha ini pun menyatakan bergabung total sebagai anggota keluarga. Pak Nuas pun tidak keberatan dan justru senang.
Dampak lain yang jauh lebih penting dan serius, ialah kemaruknya para anggota keluarga terhadap usaha transportasi yang sukses besar ini. Setiap hari sebagian besar mereka berjubelan di garasi; meskipun sebenarnya banyak yang sekedar bermain-main klakson atau memutar-mutar stir mobil, karena memang tak tahu apa yang harus mereka lakukan di garasi itu. Lama-lama, mereka yang bertanggung jawab menggarap sawah, kebun, peternakan, toko, dlsb pun tertarik dan tersedot ikut menjubeli garasi mereka. Sawah pun menjadi bero, kebun tak terawat, toko tak ada yang menjaga, ternak-ternak pada mati, perahu nganggur Bahkan, rumah sendiri sering kosong, banyak perabotan diambil dan dibawa orang tak ada yang tahu. Halamannya kotor tak terurus.
Ketika penguasa negeri ganti dan mendirikan juga usaha transportasi sendiri, keluarga Nuas Waja pun agak pusing. Soalnya cara berusaha penguasa baru ini tidak lazim. Mereka menggunakan cara-cara makhluk rimba untuk memajukan usaha mereka. Tak segan-segan mereka menggunakan tipuan dan kekerasan.Orang dipaksa untuk menggunakan transportasi mereka; yang tidak mau, tahu rasa!
Namun, meski bersaing dengan usaha penguasa yang zalim begitu, usaha keluarga Nuas Waja masih mampu bertahan, walau babak-belur. Bahkan perlakuan penguasa itu justru semakin mengentalkan ‘fanatisme’ keluarga terhadap usaha transportasi ini.
Akan tetapi, penguasa lebih pintar lagi. Dengan kelicikannya, orang pun digiring untuk menyepakati aturan main baru yang agaknya sudah lama mereka rencanakan di bidang transportasi ini. Aturan itu melarang orang berusaha transportasi sendiri-sendiri di rumah. Mereka yang berusaha di bidang transportasi harus nge-pol dan bergabung dalam salah satu dari tiga wadah usaha yang sudah disiapkan. Akhirnya, keluarga Nuas pun bergabung dengan beberapa penguasaha lain, sesuai arahan penguasa. Dan nasib seperti pada masa lampau pun terulang kembali. Keluarga Nuas yang sahamnya paling besar, justru waktu pembagian keuntungan selalu kena tipu dan rugi.
Maka, waktu ada gagasan dari sementara anggota keluarga untuk kembali saja ke jati diri awal mereka, banyak yang mendukung gagasan itu, meskipun dengan alasan yang berbeda-beda. Demikianlah, meskipun seperti malas-malas dan terus menghadapi godaan untuk hanya mengurusi usaha transportasi, anggota keluarga yang biasa menggarap sawah, mulai kembali ke sawah; yang biasa mengurus kebun, kembali ke kebun; yang mengelola toko, kembali ke toko; demikian seterusnya. Sementara itu, mereka yang sudah merasa mapan menjalankan usaha transportasi, sesekali masih mencoba mencari kawan pendukung.
Dunia selalu berubah. Beberapa waktu, setelah pemerintahan ganti lagi dan usaha transportasi kembali bebas, keluarga Nuas Waja pun kembali terseret arus pertransportasian yang kembali marak. Banyak keluarga yang dulu punya usaha sendiri, beramai-ramai menghidupkan kembali usaha transportasi mereka. Garasi pun dibangun dimana-mana. Dan keluarga Nuas Waja pun menghabiskan enersi mereka untuk urusan garasi dan transportasi; termasuk mereka yang busi dan dongkrak pun tak mengenalnya.
***
Mungkin saya terlalu sederhana, tapi tamsil di atas itulah yang selalu saya gunakan untuk menerangkan NU dan Khithahnya kepada orang-orang sederhana di bawah.
Saya ingin mengatakan bahwa memang ada faktor politik di dalam proses kelahiran Khithah NU, tapi bukan berarti politiklah yang harus disalahkan dan oleh karenanya lalu dipahami NU tak lagi menghalalkan–setelah selama ini menghalalkan--politik. Khitthah NU dalam hal ini–karena Khitthah tak sekedar bicara hal ini--sekedar mendudukkan politik dalam proporsi sesuai dengan porsinya. Politik, sama dengan dakwah, pendidikan, ekonomi, dsb., mesti dilihat sebagai khidmah kemasyarakatan yang harus dilakukan secara bertanggungjawab bagi kepentingan bangsa dan negara. (Baca Khitthah NU butir 8)
Agaknya, warga NU memang belum siap untuk menerima NU sebagai organisasi yang baik seperti dituntut Khitthah NU. Setelah perjalanannya sebagai jamaah yang cukup jauh, tiba-tiba warga NU pangling dengan jatidirinya sendiri. “Kesuksesan” mereka dalam kiprah politik, membuat mereka seperti kemaruk, sehingga mempersiapkan diri bagi amal politik sebagai khidmah tak kunjung terpikirkan. Sementara, kehidupan perpolitikan di negeri ini pun tidak mengajarkan perilaku politik yang baik, yang mengarah kepada tercapainya kemaslahatan bersama. Perpolitikan yang hanya mengedepankan kepentingan sesaat bagi kelompok sendiri-sendiri. Di pihak lain, mereka yang terus-menerus menyaksikan praktek-praktek politik yang mengabaikan akhlaqul karimah dan belum pernah merasakan manfaat dari perpolitikan itu, malah justru sering dirugikannya, serta merta menyambut Khitthah NU dengan kegirangan orang mendapat dukungan.
Akibatnya, Khitthah NU yang semestinya menjadi landasan bagi perbaikan menyeluruh untuk kepentingan bersama, hanya dijadikan sekedar alat bagi membenarkan kiprah masing-masing alias hanya dijadikan senjata untuk bertikai antar sesama.
Sebenarnya, dengan tamsil di atas itu, saya ingin mengatakan juga bahwa NU dan Khitthahnya sebenarnya sangat gamblang, mudah dipahami, dan tak ada masalah.
Khitthah NU hanya mengingatkan bahwa NU itu mempunyai tujuan besar dan cita-cita luhur yang untuk mencapainya, mengupayakan dengan berbagai ikhtiar. Bidang garapan dan khidmah NU karenanya bermacam-macam. Masing-masing dilakukan oleh mereka yang memang seharusnya melakukannya (ahlinya).
Namun, sebagaimana Islam dan Pancasila, persoalannya selalu lebih kepada manusianya. Itulah sebabnya, pada waktu menjelang Munas Lampung tahun 1992, ketika Kyai A. Muchith Muzadi diminta PBNU menulis syarah Khitthah, saya sempat mempertanyakan, apanya yang perlu disyarahi? Bukankah Khitthah NU sudah sedemikian jelas bagai matahari siang? Apabila orang tidak bisa melihat matahari, bukan mataharinya yang kurang jelas. Sekarang disyarahi dan besok mungkin dikhasyiahi pun, jika kepentingan NU dan umat masih dinomorsekiankan, insya Allah Khitthah tetap tak kunjung “jelas” bagi mereka yang bersangkutan.
Sejak pertama dimasyarakatkannya Khitthah NU, telah ratusan kali saya bertemu warga NU, yang tokoh maupun bukan; belasan kalau tidak puluhan artikel saya tulis; dan kesimpulan saya tetap seperti itu. Seperti Indonesia ini, manusianyalah yang perlu ‘direformasi’. Karena itu saya selalu ngotot, bahwa penataan diri mestilah merupakan prioritas. NU harus segera diupayakan menjadi jam’iyyah, tidak terus menerus hanya sebagai jamaah.
Khitthah NU ini merupakan landasan dan patokan-patokan dasar yang perwujudannya dengan izin Allah terutama tergantung kepada semangat pemimpin dan warga NU. Jam’iyyah Nahdlatul Ulama hanya akan memperoleh dan mencapai cita-citanya jika pemimpin dan warganya benar-benar meresapi dan mengamalkan Khittah NU ini. (Khotimah Khitthah Nahdlatul Ulama). Wallahu a‘lam.
Keluarga Pak Nuas Waja merupakan keluarga desa yang cukup kaya. Di samping rumah yang besar, keluarga ini memiliki sawah, kebun, peternakan, perahu penangkap ikan, toko serba ada, dan masih ada kekayaan dan usaha yang lain. Keluarga Pak Nuas Waja yang cukup banyak, tidak kesulitan menangani semua harta dan usaha itu, meski pengelolaannya masih secara tradisional. Masing-masing anggota keluarga, sesuai keahliannya diserahi dan bertanggungjawab atas bidang yang dikuasainya. Ini menggarap sawah; ini mengurus kebun; itu menangani toko; itu mengurus peternakan; demikian seterusnya.
Masih ada satu usaha keluarga lagi yang dilakukan bekerja sama dengan pihak-pihak lain. Yaitu, usaha transportasi. Tapi, karena waktu pembagian keuntungan, dirasa kurang adil, akhirnya keluar dan mendirikan usaha transportasi sendiri. Berhubung usaha ini baru bagi mereka, maka diajaknya beberapa personil dari luar yang dianggap mampu dan mengerti seluk-beluk transportasi. Ternyata, usaha baru ini meraih sukses yang luar biasa. Dari empat besar perusahaan transportasi, perusahaan keluarga pak Nuas Waja yang baru ini meraih peringkat ketiga. Dampak dari sukses besar ini, antara lain: personil-personil dari luar yang ikut membantu–atau yang berjanji akan membantu--menangani usaha ini pun menyatakan bergabung total sebagai anggota keluarga. Pak Nuas pun tidak keberatan dan justru senang.
Dampak lain yang jauh lebih penting dan serius, ialah kemaruknya para anggota keluarga terhadap usaha transportasi yang sukses besar ini. Setiap hari sebagian besar mereka berjubelan di garasi; meskipun sebenarnya banyak yang sekedar bermain-main klakson atau memutar-mutar stir mobil, karena memang tak tahu apa yang harus mereka lakukan di garasi itu. Lama-lama, mereka yang bertanggung jawab menggarap sawah, kebun, peternakan, toko, dlsb pun tertarik dan tersedot ikut menjubeli garasi mereka. Sawah pun menjadi bero, kebun tak terawat, toko tak ada yang menjaga, ternak-ternak pada mati, perahu nganggur Bahkan, rumah sendiri sering kosong, banyak perabotan diambil dan dibawa orang tak ada yang tahu. Halamannya kotor tak terurus.
Ketika penguasa negeri ganti dan mendirikan juga usaha transportasi sendiri, keluarga Nuas Waja pun agak pusing. Soalnya cara berusaha penguasa baru ini tidak lazim. Mereka menggunakan cara-cara makhluk rimba untuk memajukan usaha mereka. Tak segan-segan mereka menggunakan tipuan dan kekerasan.Orang dipaksa untuk menggunakan transportasi mereka; yang tidak mau, tahu rasa!
Namun, meski bersaing dengan usaha penguasa yang zalim begitu, usaha keluarga Nuas Waja masih mampu bertahan, walau babak-belur. Bahkan perlakuan penguasa itu justru semakin mengentalkan ‘fanatisme’ keluarga terhadap usaha transportasi ini.
Akan tetapi, penguasa lebih pintar lagi. Dengan kelicikannya, orang pun digiring untuk menyepakati aturan main baru yang agaknya sudah lama mereka rencanakan di bidang transportasi ini. Aturan itu melarang orang berusaha transportasi sendiri-sendiri di rumah. Mereka yang berusaha di bidang transportasi harus nge-pol dan bergabung dalam salah satu dari tiga wadah usaha yang sudah disiapkan. Akhirnya, keluarga Nuas pun bergabung dengan beberapa penguasaha lain, sesuai arahan penguasa. Dan nasib seperti pada masa lampau pun terulang kembali. Keluarga Nuas yang sahamnya paling besar, justru waktu pembagian keuntungan selalu kena tipu dan rugi.
Maka, waktu ada gagasan dari sementara anggota keluarga untuk kembali saja ke jati diri awal mereka, banyak yang mendukung gagasan itu, meskipun dengan alasan yang berbeda-beda. Demikianlah, meskipun seperti malas-malas dan terus menghadapi godaan untuk hanya mengurusi usaha transportasi, anggota keluarga yang biasa menggarap sawah, mulai kembali ke sawah; yang biasa mengurus kebun, kembali ke kebun; yang mengelola toko, kembali ke toko; demikian seterusnya. Sementara itu, mereka yang sudah merasa mapan menjalankan usaha transportasi, sesekali masih mencoba mencari kawan pendukung.
Dunia selalu berubah. Beberapa waktu, setelah pemerintahan ganti lagi dan usaha transportasi kembali bebas, keluarga Nuas Waja pun kembali terseret arus pertransportasian yang kembali marak. Banyak keluarga yang dulu punya usaha sendiri, beramai-ramai menghidupkan kembali usaha transportasi mereka. Garasi pun dibangun dimana-mana. Dan keluarga Nuas Waja pun menghabiskan enersi mereka untuk urusan garasi dan transportasi; termasuk mereka yang busi dan dongkrak pun tak mengenalnya.
***
Mungkin saya terlalu sederhana, tapi tamsil di atas itulah yang selalu saya gunakan untuk menerangkan NU dan Khithahnya kepada orang-orang sederhana di bawah.
Saya ingin mengatakan bahwa memang ada faktor politik di dalam proses kelahiran Khithah NU, tapi bukan berarti politiklah yang harus disalahkan dan oleh karenanya lalu dipahami NU tak lagi menghalalkan–setelah selama ini menghalalkan--politik. Khitthah NU dalam hal ini–karena Khitthah tak sekedar bicara hal ini--sekedar mendudukkan politik dalam proporsi sesuai dengan porsinya. Politik, sama dengan dakwah, pendidikan, ekonomi, dsb., mesti dilihat sebagai khidmah kemasyarakatan yang harus dilakukan secara bertanggungjawab bagi kepentingan bangsa dan negara. (Baca Khitthah NU butir 8)
Agaknya, warga NU memang belum siap untuk menerima NU sebagai organisasi yang baik seperti dituntut Khitthah NU. Setelah perjalanannya sebagai jamaah yang cukup jauh, tiba-tiba warga NU pangling dengan jatidirinya sendiri. “Kesuksesan” mereka dalam kiprah politik, membuat mereka seperti kemaruk, sehingga mempersiapkan diri bagi amal politik sebagai khidmah tak kunjung terpikirkan. Sementara, kehidupan perpolitikan di negeri ini pun tidak mengajarkan perilaku politik yang baik, yang mengarah kepada tercapainya kemaslahatan bersama. Perpolitikan yang hanya mengedepankan kepentingan sesaat bagi kelompok sendiri-sendiri. Di pihak lain, mereka yang terus-menerus menyaksikan praktek-praktek politik yang mengabaikan akhlaqul karimah dan belum pernah merasakan manfaat dari perpolitikan itu, malah justru sering dirugikannya, serta merta menyambut Khitthah NU dengan kegirangan orang mendapat dukungan.
Akibatnya, Khitthah NU yang semestinya menjadi landasan bagi perbaikan menyeluruh untuk kepentingan bersama, hanya dijadikan sekedar alat bagi membenarkan kiprah masing-masing alias hanya dijadikan senjata untuk bertikai antar sesama.
Sebenarnya, dengan tamsil di atas itu, saya ingin mengatakan juga bahwa NU dan Khitthahnya sebenarnya sangat gamblang, mudah dipahami, dan tak ada masalah.
Khitthah NU hanya mengingatkan bahwa NU itu mempunyai tujuan besar dan cita-cita luhur yang untuk mencapainya, mengupayakan dengan berbagai ikhtiar. Bidang garapan dan khidmah NU karenanya bermacam-macam. Masing-masing dilakukan oleh mereka yang memang seharusnya melakukannya (ahlinya).
Namun, sebagaimana Islam dan Pancasila, persoalannya selalu lebih kepada manusianya. Itulah sebabnya, pada waktu menjelang Munas Lampung tahun 1992, ketika Kyai A. Muchith Muzadi diminta PBNU menulis syarah Khitthah, saya sempat mempertanyakan, apanya yang perlu disyarahi? Bukankah Khitthah NU sudah sedemikian jelas bagai matahari siang? Apabila orang tidak bisa melihat matahari, bukan mataharinya yang kurang jelas. Sekarang disyarahi dan besok mungkin dikhasyiahi pun, jika kepentingan NU dan umat masih dinomorsekiankan, insya Allah Khitthah tetap tak kunjung “jelas” bagi mereka yang bersangkutan.
Sejak pertama dimasyarakatkannya Khitthah NU, telah ratusan kali saya bertemu warga NU, yang tokoh maupun bukan; belasan kalau tidak puluhan artikel saya tulis; dan kesimpulan saya tetap seperti itu. Seperti Indonesia ini, manusianyalah yang perlu ‘direformasi’. Karena itu saya selalu ngotot, bahwa penataan diri mestilah merupakan prioritas. NU harus segera diupayakan menjadi jam’iyyah, tidak terus menerus hanya sebagai jamaah.
Khitthah NU ini merupakan landasan dan patokan-patokan dasar yang perwujudannya dengan izin Allah terutama tergantung kepada semangat pemimpin dan warga NU. Jam’iyyah Nahdlatul Ulama hanya akan memperoleh dan mencapai cita-citanya jika pemimpin dan warganya benar-benar meresapi dan mengamalkan Khittah NU ini. (Khotimah Khitthah Nahdlatul Ulama). Wallahu a‘lam.
Senin, 14 Juni 2010
Sebuah koin Penyok
oleh : Gusblero
Lelaki itu keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok sandang dan pangan keluarganya.
Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Lelali itu sudah tak tahan dengan kondisi seperti ini, pun ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali inipun akan membawa keberuntungan, mendapat pekerjaan memperoleh penghasilan.
Ketika lelaki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya. “Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok,” gerutunya kecewa. Meskipun begitu kerna gusar, kecewa, dan panik akan tuntutan kehidupannya, ia membawa koin itu ke sebuah bank.
“Sebaiknya koin in Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno,” kata teller itu memberi saran. Lelaki itupun mengikuti anjuran si teller, membawa koinnya ke kolektor. Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai 300 ribu rupiah.
Begitu senangnya lelaki itu, ia lalu mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini. Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia merasa bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan stoples. Sesudah membeli kayu seharga 300 ribu, dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang.
Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata pemilik bengkel yang sudah terlatih melihat kayu bagus melihat apa yang dipanggul lelaki itu. Kayunya indah, kualitasnya bagus, dan mutunya terkenal. Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 1.000.000 rupiah kepada lelaki itu.
Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun pengrajin itu meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Dia pun segera membawanya pulang.
Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita terpikat dan menawar dengan harga 2.000.000 rupiah. Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 2.500.000 rupiah. Lelaki itupun setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang.
Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 2.500.000 rupiah. Pada saat itu seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur.
Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya berkata, “Apa yang terjadi? Engkau baik saja kan? Apa yang diambil oleh perampok tadi?”
Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi”.
Ahaaaaa....BILA KITA SADAR KITA TAK PERNAH MEMILIKI APAPUN, KENAPA HARUS TENGGELAM DALAM KEPEDIHAN YANG BERLEBIHAN?
Note: kisah ini diadaptasi dari The Healing Stories karya GW Burns
Lelaki itu keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok sandang dan pangan keluarganya.
Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Lelali itu sudah tak tahan dengan kondisi seperti ini, pun ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali inipun akan membawa keberuntungan, mendapat pekerjaan memperoleh penghasilan.
Ketika lelaki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya. “Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok,” gerutunya kecewa. Meskipun begitu kerna gusar, kecewa, dan panik akan tuntutan kehidupannya, ia membawa koin itu ke sebuah bank.
“Sebaiknya koin in Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno,” kata teller itu memberi saran. Lelaki itupun mengikuti anjuran si teller, membawa koinnya ke kolektor. Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai 300 ribu rupiah.
Begitu senangnya lelaki itu, ia lalu mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini. Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia merasa bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan stoples. Sesudah membeli kayu seharga 300 ribu, dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang.
Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata pemilik bengkel yang sudah terlatih melihat kayu bagus melihat apa yang dipanggul lelaki itu. Kayunya indah, kualitasnya bagus, dan mutunya terkenal. Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 1.000.000 rupiah kepada lelaki itu.
Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun pengrajin itu meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Dia pun segera membawanya pulang.
Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita terpikat dan menawar dengan harga 2.000.000 rupiah. Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 2.500.000 rupiah. Lelaki itupun setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang.
Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 2.500.000 rupiah. Pada saat itu seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur.
Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya berkata, “Apa yang terjadi? Engkau baik saja kan? Apa yang diambil oleh perampok tadi?”
Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi”.
Ahaaaaa....BILA KITA SADAR KITA TAK PERNAH MEMILIKI APAPUN, KENAPA HARUS TENGGELAM DALAM KEPEDIHAN YANG BERLEBIHAN?
Note: kisah ini diadaptasi dari The Healing Stories karya GW Burns
Kamis, 10 Juni 2010
Sejoli Cinta
oleh : Kiai Budi
Sedulurku tercinta,sejoli itu pada galipnya dimaknai sepasang atau sejodoh antara laki-laki dan perempuan,tetapi sejoli ini lain karena ada cinta diantara mereka dengan amat kuatnya,sehingga mereka meninggal dalam sepuluh menit selisihnya.Ada seorang perjaka sampai tua--sekitar 50 tahun--meninggal,sepuluh menit berikutnya Ibunya menyusul,sejoli cinta mati bersama.Perjaka sampai tua itu--dia sedulurku--disebabkab dia merawat Ibunya yang sakit sampai puluhan tahun,Ibu itu umurnya 80 tahun saat meninggal.Aku yakin sedulurku ini menuruti suara dhamirnya,dimana Ibu adalah sosok yang penuh cinta karena dia diwujudkan Tuhan sebagai manifestasi dari jamaliyahNya (keindahanNya),sehinga Kanjeng Nabi menyebut surga itu dibawah telapak kaki Ibunya.Pada sisi yang lain perempuan itu sebenarnya bayang-bayang Tuhan,karena lewat rahimnyalah kita semua ini dititipkan Gusti Allah.Sedulurku ini orangnya kurus,tinggi badan,sorot mata yang tajam dan punya penyakit bawaan sejak kecil--jantung.Sementara Ibunya punya penyakit misteri,disamping ketuaannya tetapi sakitnya itu mesterius karena puluhan tahun tak kunjung sembuh (bersyukurlah bagi yang sehat-sehat saja).Sekandungnya banyak sebenarnya,semua kerja dan berumah tangga di luar kota,luar Jawa.Jadinya dia itu semacam manifestasi cinta Allah kepada Ibunya itu,karena merawat sedemikian rupa,sampai ia matikan syahwatnya sendiri--lupa menikah sampai setua itu.Aku sendiri ketika menelaah dia,ingat akan seorang pemuda yang menawarkan diri mau ikut hijrah ke Madinah,saat itu Kanjeng Nabi saw bertanya : masihkah kamu punya seorang Ibu? Masih Ya Rasulallah--jawab pemuda itu--malah sekarang baru sakit dan saat aku pamiti beliau menangis.Dengan kearifan cinta beliau,beliau menyatakan : kamu tidak usah ikut hijrah aku,rawatlah Ibumu pahalamu sama dengan hijrahku,buatlah Ibumu tersenyum sebagaimana engkau telah membuatnya menangis.Kalau aku ketemu dia kala menjenguk Ibunya,memastikan aku ingat akan pemuda yang sowan Kanjeng Nabi saw itu.Ketika aku menatapnya,aku musti yang tertunduk malu--bahkan meneteskan air mata--karena aku lihat dia : memasakkan,mencuci,mmbersihkan rumah,menyuapi,memandikan,menceboki,memijiti,meminumi dengan sepenuh keikhlasan,kepada Ibunya tersayang itu.Hampir tidak ada waktu berpisah dengan Ibu itu,seluruh jasad dan hatinya dipersembahkan kepada Ibunya,kalau Ibunya tertidur dia tidur juga di sisi ranjang Ibunya.Sempat berbisik lembut kepadaku Ibu itu : Nak Kiai,anakku ini cintanya kepadaku sedemikian tulus,dengannya aku merasakan kehadiran cinta Gusti Allah,aku menjadi saksi bahwa dialah anak yang sepantasnya memperoleh surga di sisiNya.Aku menangis mendengarnya,aku menangis malu : bisakah diriku semacam anak ini.Soal do'a,bukankah tidak ada do'a yang melebihi keramatnya dari do'a seorang Ibu.Ternyata yang semakin parah sakitnya itu,anak yang soleh ini,sehingga ia menjemput ajal disisi Ibunya ini,dia telah sempurna melaksanakan cinta.Ketika derai tangis dan airmata di rumah Ibu itu terjadi karena meningalnya anak perjaka tua,selang sepuluh menit berikutnya Ibunya itu tidak menangis,dengan sesungging senyum dibibir tuanya : Ibu itu menyusul anak cinta itu,meninggal juga.Rumah ini bagai khotbah kepada manusia,khotbah cinta,semua pelayat mulutnya terkatup,andai bicara banyak yang mengeluarkan airmata.Rata-rata aku lihat semua tertunduk malu--termasuk aku--yang didera dan digedor hatinya bisakah aku seperti anak perjaka tua itu,aku malu,aku malu,aku malu!!!!!!!....Kawan-kawan,prosesi pemakaman sedemikian melimpah,satu rumah meninggal bersamaan,dunia mana hal ini bisa terjadi kalau bukan saat musibah besar melanda.Aku merasa tidak hanya pelayat yang melimpah tetapi para malaikat,ruh-ruh suci bahkan Alllah sendiri tersenyum menyaksikan peradaban agung saat itu.Ketika aku melihat penguburan beliau berdua berdampingan,lalu aku yang diminta menalkinnya,aku tidak kuasa menalkin dengan suara,aku menalkinnya dengan airmata terhadap sejoli cinta ini.........
Sedulurku tercinta,sejoli itu pada galipnya dimaknai sepasang atau sejodoh antara laki-laki dan perempuan,tetapi sejoli ini lain karena ada cinta diantara mereka dengan amat kuatnya,sehingga mereka meninggal dalam sepuluh menit selisihnya.Ada seorang perjaka sampai tua--sekitar 50 tahun--meninggal,sepuluh menit berikutnya Ibunya menyusul,sejoli cinta mati bersama.Perjaka sampai tua itu--dia sedulurku--disebabkab dia merawat Ibunya yang sakit sampai puluhan tahun,Ibu itu umurnya 80 tahun saat meninggal.Aku yakin sedulurku ini menuruti suara dhamirnya,dimana Ibu adalah sosok yang penuh cinta karena dia diwujudkan Tuhan sebagai manifestasi dari jamaliyahNya (keindahanNya),sehinga Kanjeng Nabi menyebut surga itu dibawah telapak kaki Ibunya.Pada sisi yang lain perempuan itu sebenarnya bayang-bayang Tuhan,karena lewat rahimnyalah kita semua ini dititipkan Gusti Allah.Sedulurku ini orangnya kurus,tinggi badan,sorot mata yang tajam dan punya penyakit bawaan sejak kecil--jantung.Sementara Ibunya punya penyakit misteri,disamping ketuaannya tetapi sakitnya itu mesterius karena puluhan tahun tak kunjung sembuh (bersyukurlah bagi yang sehat-sehat saja).Sekandungnya banyak sebenarnya,semua kerja dan berumah tangga di luar kota,luar Jawa.Jadinya dia itu semacam manifestasi cinta Allah kepada Ibunya itu,karena merawat sedemikian rupa,sampai ia matikan syahwatnya sendiri--lupa menikah sampai setua itu.Aku sendiri ketika menelaah dia,ingat akan seorang pemuda yang menawarkan diri mau ikut hijrah ke Madinah,saat itu Kanjeng Nabi saw bertanya : masihkah kamu punya seorang Ibu? Masih Ya Rasulallah--jawab pemuda itu--malah sekarang baru sakit dan saat aku pamiti beliau menangis.Dengan kearifan cinta beliau,beliau menyatakan : kamu tidak usah ikut hijrah aku,rawatlah Ibumu pahalamu sama dengan hijrahku,buatlah Ibumu tersenyum sebagaimana engkau telah membuatnya menangis.Kalau aku ketemu dia kala menjenguk Ibunya,memastikan aku ingat akan pemuda yang sowan Kanjeng Nabi saw itu.Ketika aku menatapnya,aku musti yang tertunduk malu--bahkan meneteskan air mata--karena aku lihat dia : memasakkan,mencuci,mmbersihkan rumah,menyuapi,memandikan,menceboki,memijiti,meminumi dengan sepenuh keikhlasan,kepada Ibunya tersayang itu.Hampir tidak ada waktu berpisah dengan Ibu itu,seluruh jasad dan hatinya dipersembahkan kepada Ibunya,kalau Ibunya tertidur dia tidur juga di sisi ranjang Ibunya.Sempat berbisik lembut kepadaku Ibu itu : Nak Kiai,anakku ini cintanya kepadaku sedemikian tulus,dengannya aku merasakan kehadiran cinta Gusti Allah,aku menjadi saksi bahwa dialah anak yang sepantasnya memperoleh surga di sisiNya.Aku menangis mendengarnya,aku menangis malu : bisakah diriku semacam anak ini.Soal do'a,bukankah tidak ada do'a yang melebihi keramatnya dari do'a seorang Ibu.Ternyata yang semakin parah sakitnya itu,anak yang soleh ini,sehingga ia menjemput ajal disisi Ibunya ini,dia telah sempurna melaksanakan cinta.Ketika derai tangis dan airmata di rumah Ibu itu terjadi karena meningalnya anak perjaka tua,selang sepuluh menit berikutnya Ibunya itu tidak menangis,dengan sesungging senyum dibibir tuanya : Ibu itu menyusul anak cinta itu,meninggal juga.Rumah ini bagai khotbah kepada manusia,khotbah cinta,semua pelayat mulutnya terkatup,andai bicara banyak yang mengeluarkan airmata.Rata-rata aku lihat semua tertunduk malu--termasuk aku--yang didera dan digedor hatinya bisakah aku seperti anak perjaka tua itu,aku malu,aku malu,aku malu!!!!!!!....Kawan-kawan,prosesi pemakaman sedemikian melimpah,satu rumah meninggal bersamaan,dunia mana hal ini bisa terjadi kalau bukan saat musibah besar melanda.Aku merasa tidak hanya pelayat yang melimpah tetapi para malaikat,ruh-ruh suci bahkan Alllah sendiri tersenyum menyaksikan peradaban agung saat itu.Ketika aku melihat penguburan beliau berdua berdampingan,lalu aku yang diminta menalkinnya,aku tidak kuasa menalkin dengan suara,aku menalkinnya dengan airmata terhadap sejoli cinta ini.........
Dzat Cinta
oleh : Kiai Budi
Sedulurku tercinta,kalau manusia menyembah Tuhan yang diciptakan secara imajiner dan artifisial,karena setiap orang telah membangun semacam bentuk imajiner dalam pikirannya,yang dianggap sebagai Tuhan yang Mutlak.Pola keberagamaan ini menyembah bentuk Tuhan,meskipun sebenarnya Tuhan tersebut hanyalah sebuah produk artifisial pikiran manusia.Lihatlah pada ranah pergaulan,mereka--amat parah--menganggap orang-orang yang disebut menyembah berhala itu adalah sesat,mereka menuduh kafir dan pengikut setia paung-patung berhala.Nah,padahal kesalahan tersebut juga ada pada diri mereka sendiri sebab mereka juga menyembah berhala--imajiner itu.Keimanan ini tertuju hanya kepada berhala,maka keberagamaan ini tidak menyadari adanya Tuhan dari segala Tuhan--Kebaikan Yang Mutlak.Ranah ini bisa diklasifikasikan benere dewe,naik ke benere orang banyak karena ada perbedaan antara tuhan model tersebut dengan Tuhan dari semua Tuhan itu.Orang-orang yang mencapai Wajah Tuhan tetapi bukan dzat Tuhan adalah para penyembah berhala--buktinya kawan--siang malam bertarung dan berdebat dengan orang lain,orangnya fanatik buta dan tidak memiliki serta menentang sikap siapapun yang berbeda dengan mereka itu.Sedangkan orang-orang yang mencapai Wajah dan Dzat Tuhan,menyembah hanya kepada Tuhan Yang Esa itu,sebagai sorang muwahhid dan membebaskan diri dari penyembahan berhala,buktinya merekalah orang-orang yang menciptakan perdamaian dengan seluruh umat manusia dan membebaskan diri dari perselisihan dan pencelaan ide-ide orang lain.Dengan kata lain,bila seseoran belum mencapai pada tataran tersebut--akuilah saja--pandangan mencapai Wajah Tuhan itu menunjukkan ia masih politeis yang membuat sekutu untuk Tuhan ( yang disebut musyrik itu),meskipun pada dataran pengakuannya ia mengaku menyembah Tuhan.Orang ini disebut oleh Allah--dalam Qur'an--Dan mereka tidak menghormati Allah dengan semestinya.Allah dengan struktur khayalan pribadi inilah yang disebut tidak menghormati dengan semestinya,karena hal ini bagian dari mempertahankan pemujaan pada diri sendiri.Sesuatu yang dipahami melalui akal dan pandangan mata merupakan gambaran yang terbentuk oleh fantasi dan hayalan semata--yang subyektif--karena khayalan itu tunduk pada batas-batas rasio dan khayalan itu sendiri.Pada ujungnya,apa yang aku paparkan ini bagian dari proses mengajak pengejawantahan cinta pada dataran kenyataan atas dasar keyakinan Tuhan dari segala tuhan,dimana wujud nyatanya adalah mempersiapkan diri dengan sifat pengabdian,berprilaku sangat lapang dada, dan terbebas serta jauh dari segala kepentingan atau gangguan yang formal atau spiritual itu.Dengan demikian bisa diperjelas buktinya antara orang yang memandang Wajah Tuhan dengan Dzat Tuhan--bahasaku Dzat Cinta--terbaca dalam kenyataan,dimana bagi yang pertama masih mengedepankan pertengkaran yang kedua mengejawantahkan perdamaian abadi.Bagi yang merasakan Dzat Cinta,maka ia akan memuji apa pun yang essensinya baik dan yang menyebabkab kesempurnaan manusia.Biarkan dan relakan setiap agama dan umat memelihara ritual dan ibadah mereka masing-masing,karena sikap terpancing dan terikat pada kata-kata (Jawa,aran) dan ekspresi masing-masing agama adalah bentuk kekafiran juga.Jadinya--aku ingat dawuh Kanjeng Nai saw--kalau orang mengafirkan orang maka hakekatnya ia adalah orang kafir itu sendiri...Kawan-kawan,aku rindu pada suasana damai yang saling menyadari bahwa berbagai macam wujud tajjaliNya ini,ditampilkan dalam berbagai keyakinan umat manusia adalah seruling jiwa yang rindu akan kembali ke rumpun bambu itu--walau berbeda--sesunguhnya berdasar pada Cinta kepada Wujud yang Satu itu.........Punten Semuanya.....
Sedulurku tercinta,kalau manusia menyembah Tuhan yang diciptakan secara imajiner dan artifisial,karena setiap orang telah membangun semacam bentuk imajiner dalam pikirannya,yang dianggap sebagai Tuhan yang Mutlak.Pola keberagamaan ini menyembah bentuk Tuhan,meskipun sebenarnya Tuhan tersebut hanyalah sebuah produk artifisial pikiran manusia.Lihatlah pada ranah pergaulan,mereka--amat parah--menganggap orang-orang yang disebut menyembah berhala itu adalah sesat,mereka menuduh kafir dan pengikut setia paung-patung berhala.Nah,padahal kesalahan tersebut juga ada pada diri mereka sendiri sebab mereka juga menyembah berhala--imajiner itu.Keimanan ini tertuju hanya kepada berhala,maka keberagamaan ini tidak menyadari adanya Tuhan dari segala Tuhan--Kebaikan Yang Mutlak.Ranah ini bisa diklasifikasikan benere dewe,naik ke benere orang banyak karena ada perbedaan antara tuhan model tersebut dengan Tuhan dari semua Tuhan itu.Orang-orang yang mencapai Wajah Tuhan tetapi bukan dzat Tuhan adalah para penyembah berhala--buktinya kawan--siang malam bertarung dan berdebat dengan orang lain,orangnya fanatik buta dan tidak memiliki serta menentang sikap siapapun yang berbeda dengan mereka itu.Sedangkan orang-orang yang mencapai Wajah dan Dzat Tuhan,menyembah hanya kepada Tuhan Yang Esa itu,sebagai sorang muwahhid dan membebaskan diri dari penyembahan berhala,buktinya merekalah orang-orang yang menciptakan perdamaian dengan seluruh umat manusia dan membebaskan diri dari perselisihan dan pencelaan ide-ide orang lain.Dengan kata lain,bila seseoran belum mencapai pada tataran tersebut--akuilah saja--pandangan mencapai Wajah Tuhan itu menunjukkan ia masih politeis yang membuat sekutu untuk Tuhan ( yang disebut musyrik itu),meskipun pada dataran pengakuannya ia mengaku menyembah Tuhan.Orang ini disebut oleh Allah--dalam Qur'an--Dan mereka tidak menghormati Allah dengan semestinya.Allah dengan struktur khayalan pribadi inilah yang disebut tidak menghormati dengan semestinya,karena hal ini bagian dari mempertahankan pemujaan pada diri sendiri.Sesuatu yang dipahami melalui akal dan pandangan mata merupakan gambaran yang terbentuk oleh fantasi dan hayalan semata--yang subyektif--karena khayalan itu tunduk pada batas-batas rasio dan khayalan itu sendiri.Pada ujungnya,apa yang aku paparkan ini bagian dari proses mengajak pengejawantahan cinta pada dataran kenyataan atas dasar keyakinan Tuhan dari segala tuhan,dimana wujud nyatanya adalah mempersiapkan diri dengan sifat pengabdian,berprilaku sangat lapang dada, dan terbebas serta jauh dari segala kepentingan atau gangguan yang formal atau spiritual itu.Dengan demikian bisa diperjelas buktinya antara orang yang memandang Wajah Tuhan dengan Dzat Tuhan--bahasaku Dzat Cinta--terbaca dalam kenyataan,dimana bagi yang pertama masih mengedepankan pertengkaran yang kedua mengejawantahkan perdamaian abadi.Bagi yang merasakan Dzat Cinta,maka ia akan memuji apa pun yang essensinya baik dan yang menyebabkab kesempurnaan manusia.Biarkan dan relakan setiap agama dan umat memelihara ritual dan ibadah mereka masing-masing,karena sikap terpancing dan terikat pada kata-kata (Jawa,aran) dan ekspresi masing-masing agama adalah bentuk kekafiran juga.Jadinya--aku ingat dawuh Kanjeng Nai saw--kalau orang mengafirkan orang maka hakekatnya ia adalah orang kafir itu sendiri...Kawan-kawan,aku rindu pada suasana damai yang saling menyadari bahwa berbagai macam wujud tajjaliNya ini,ditampilkan dalam berbagai keyakinan umat manusia adalah seruling jiwa yang rindu akan kembali ke rumpun bambu itu--walau berbeda--sesunguhnya berdasar pada Cinta kepada Wujud yang Satu itu.........Punten Semuanya.....
Berhala Cinta
oleh : Kiai Budi
Sedulurku tercinta,aku menghabiskan sebagian besar hidupku untuk merenungkan dan mengenang ilmu dan kehadiran Tuhan--cahaya Ketauhidan.Berkelana tidak ke Mesir,ke Yaman,ke Mekah,ke Medinah,ke New York,ke Amsterdam,ke Berlin,ke Cina dan kemana-mana,tetapi aku latih merenungkan dan mengenang sekaligus merasakan ketauhidan itu dengan cara mendatangi kuburan-kuburan,untuk merasakan dan menghadirkan ilmu ketiadaan--bukan meminta sesuatu seperti yang banyak orang tuduhkan itu.Aku tidak peduli siang apa malam,hari berganti minggu,minggu berganti bulan,bulan berganti tahun,desa apa kota,gelap apa terang,sehat apa sakit,pahit apa manis,dipuji apa dihina,jauh apa dekat,berat apa ringan,sendiri apa berkawan dan seterusnya.Begitu banyak aku baca tulisan yang menakjubkan,mengungkapkan perkataan-perkataan yang indah dan memikat,wujudnya buku-buku serta kitab-kitab dari yang ringan sampai yang berat-berat.Aku tidak mau menyia-nyiakan waktu sedikit pun menikmati suguhan-suguhan Allah itu,termasuk menikmati buku-buku dan kitab-kitab agama lain,termasuk aliran-aliran apa saja.Pada kesimpuanku,apa yang aku nikmati semua ini--tentu dengan susah payah--merupakan tadarrus kehidupan,dengan dasar bahwa tulisan apa saja itu bersumber dari dari bahasa kalbu,bukan di tempat manapun.Aku cari maknanya semua ini dalam kalbuku,aku selami setiap pertanyaan dan panggilan,aku ketuk pintu pada diriku tanpa mengabaikan bilangan pintu-pintu karena setiap keberadaan ini pintu menuju Tuhan,Allah swt.Dasarnya sederhana namun sarat makna : Sesunguhnya--firman Tuhan--semua yang ada bertasbih kepadaNya.Kalau manusia memandang Tuhan masih dalam dataran wujud--entah kasar atau halus--maka sebenarnya ia langsung menjadi berhala.Namun dalam ranah Jalan Cinta,semua berhala itu adalah isyarat dan tanda yang menyingkap Tuhan dalam Cinta dan Kesatuan.Inilah prinsipku yang melandasi bahwa setiap ikat pinggang kependetaan adalah kesetiaan melayani umat manusia dan alam semesta.Apa yang menjadi olok-olok manusia satu dengan yang lain--maaf,menurutku amat primitif--misalnya antara iman dan kekufuran,pujian dan hujatan itu pada Wujud,selalu abadi dan tetap,makanya apa yang orang bilang kemusyrikan dan Ketauhidan itu hanyalah Satu.Setiap orang muslim jangan merasa banggga dengan menghina keberadaan yang berbeda dalam keragaman semua ini,karena segala sesuatu yang berasal dari Wujud itu berubah dalam berbagai macam bentuk,maka satu dari keseluruhan bentuk tersebut berasal dari Ruh yang sama.Setiap orang yang berbeda dengan diriku--orang ada yang bilang kafir itu--janganlah berkecil hati karena aku pandang :kegairahan hasrat mencari yang misteri itu--dibalik berhala sekalipun atau bayang-bayang suram yang pernah dilihat orang--kemudian mewujud dalam kepasrahan ( bahasa arabnya Islam) itu lebih baik daripada orang yang bersimpuh di masjid tetapi membawa hawa sok suci itu.Kalau orang mau melihat berhala yang abstrak ini dalam dirinya,maka ia akan merasa jijik pada prilakunya yang suka menghina-hina saudaranya itu--dalam kesatuan persaudaraan sesama makhluk Tuhan.Lebih sederhananya kalau orang menyembah berhala kongkrit saja sedemikian melahirkan ketundukan hati,kenapa orang yang merasa sok suci--menyembah bayang-bayang suram itu--melahirkan kepongahan yang bisa diklasifikasikan Kanjeng Nabi saw sebagai orang gila yang hahiki ini.Aku sebut bayang-bayang suram karena siapapun yang membayangkan Tuhan secara demikian,ini menjelma menjadi berhala juga--secara abstrak--karena Dia tidak bisa di gambarkan dengan sesuatu (tan kinoyo opo-Jawa),Dia berada dibalik semua yang tergambarkan--kasarnya--Dia berada dibalik berhala ini semua.....Kawan-kawan,maafkanlah aku,atas kesederhaan pemikiranku,atas kebodohanku menangkap isyarat itu,atas kehinaanku yang rindu akan kesempurnaan adabNya,yang lemah atas keterseokan dalam perjalanan menujuNya,aku ngeri melihat pertentangan dan percekcokan itu,aku rindu akan Taman yang menghargai setiap ciptaanNya itu,bagiku Tuhan tanpa kesalahan,aku aksiomakan semua ini bagai akar dan cabang-cabangnya Iman,ini semua--maafkan aku--dari l-Qur'an itu : semua yang dicipta tidak ada kesia-siaan dan tidak ada kesalahan dalam ciptaan Tuhan.........Aku menangis dalam sunyi,atas kesaksian yang Indah ini.......
Sedulurku tercinta,aku menghabiskan sebagian besar hidupku untuk merenungkan dan mengenang ilmu dan kehadiran Tuhan--cahaya Ketauhidan.Berkelana tidak ke Mesir,ke Yaman,ke Mekah,ke Medinah,ke New York,ke Amsterdam,ke Berlin,ke Cina dan kemana-mana,tetapi aku latih merenungkan dan mengenang sekaligus merasakan ketauhidan itu dengan cara mendatangi kuburan-kuburan,untuk merasakan dan menghadirkan ilmu ketiadaan--bukan meminta sesuatu seperti yang banyak orang tuduhkan itu.Aku tidak peduli siang apa malam,hari berganti minggu,minggu berganti bulan,bulan berganti tahun,desa apa kota,gelap apa terang,sehat apa sakit,pahit apa manis,dipuji apa dihina,jauh apa dekat,berat apa ringan,sendiri apa berkawan dan seterusnya.Begitu banyak aku baca tulisan yang menakjubkan,mengungkapkan perkataan-perkataan yang indah dan memikat,wujudnya buku-buku serta kitab-kitab dari yang ringan sampai yang berat-berat.Aku tidak mau menyia-nyiakan waktu sedikit pun menikmati suguhan-suguhan Allah itu,termasuk menikmati buku-buku dan kitab-kitab agama lain,termasuk aliran-aliran apa saja.Pada kesimpuanku,apa yang aku nikmati semua ini--tentu dengan susah payah--merupakan tadarrus kehidupan,dengan dasar bahwa tulisan apa saja itu bersumber dari dari bahasa kalbu,bukan di tempat manapun.Aku cari maknanya semua ini dalam kalbuku,aku selami setiap pertanyaan dan panggilan,aku ketuk pintu pada diriku tanpa mengabaikan bilangan pintu-pintu karena setiap keberadaan ini pintu menuju Tuhan,Allah swt.Dasarnya sederhana namun sarat makna : Sesunguhnya--firman Tuhan--semua yang ada bertasbih kepadaNya.Kalau manusia memandang Tuhan masih dalam dataran wujud--entah kasar atau halus--maka sebenarnya ia langsung menjadi berhala.Namun dalam ranah Jalan Cinta,semua berhala itu adalah isyarat dan tanda yang menyingkap Tuhan dalam Cinta dan Kesatuan.Inilah prinsipku yang melandasi bahwa setiap ikat pinggang kependetaan adalah kesetiaan melayani umat manusia dan alam semesta.Apa yang menjadi olok-olok manusia satu dengan yang lain--maaf,menurutku amat primitif--misalnya antara iman dan kekufuran,pujian dan hujatan itu pada Wujud,selalu abadi dan tetap,makanya apa yang orang bilang kemusyrikan dan Ketauhidan itu hanyalah Satu.Setiap orang muslim jangan merasa banggga dengan menghina keberadaan yang berbeda dalam keragaman semua ini,karena segala sesuatu yang berasal dari Wujud itu berubah dalam berbagai macam bentuk,maka satu dari keseluruhan bentuk tersebut berasal dari Ruh yang sama.Setiap orang yang berbeda dengan diriku--orang ada yang bilang kafir itu--janganlah berkecil hati karena aku pandang :kegairahan hasrat mencari yang misteri itu--dibalik berhala sekalipun atau bayang-bayang suram yang pernah dilihat orang--kemudian mewujud dalam kepasrahan ( bahasa arabnya Islam) itu lebih baik daripada orang yang bersimpuh di masjid tetapi membawa hawa sok suci itu.Kalau orang mau melihat berhala yang abstrak ini dalam dirinya,maka ia akan merasa jijik pada prilakunya yang suka menghina-hina saudaranya itu--dalam kesatuan persaudaraan sesama makhluk Tuhan.Lebih sederhananya kalau orang menyembah berhala kongkrit saja sedemikian melahirkan ketundukan hati,kenapa orang yang merasa sok suci--menyembah bayang-bayang suram itu--melahirkan kepongahan yang bisa diklasifikasikan Kanjeng Nabi saw sebagai orang gila yang hahiki ini.Aku sebut bayang-bayang suram karena siapapun yang membayangkan Tuhan secara demikian,ini menjelma menjadi berhala juga--secara abstrak--karena Dia tidak bisa di gambarkan dengan sesuatu (tan kinoyo opo-Jawa),Dia berada dibalik semua yang tergambarkan--kasarnya--Dia berada dibalik berhala ini semua.....Kawan-kawan,maafkanlah aku,atas kesederhaan pemikiranku,atas kebodohanku menangkap isyarat itu,atas kehinaanku yang rindu akan kesempurnaan adabNya,yang lemah atas keterseokan dalam perjalanan menujuNya,aku ngeri melihat pertentangan dan percekcokan itu,aku rindu akan Taman yang menghargai setiap ciptaanNya itu,bagiku Tuhan tanpa kesalahan,aku aksiomakan semua ini bagai akar dan cabang-cabangnya Iman,ini semua--maafkan aku--dari l-Qur'an itu : semua yang dicipta tidak ada kesia-siaan dan tidak ada kesalahan dalam ciptaan Tuhan.........Aku menangis dalam sunyi,atas kesaksian yang Indah ini.......
Langganan:
Postingan (Atom)